Wilayah Adat

Wanua Pekurehua Boya Watutau

 Terverifikasi

Nama Komunitas Pekurehua Boya Watutau
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota DONGGALA
Kecamatan Lore Peore
Desa WATUTAU
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 22.477 Ha
Satuan Wanua Pekurehua Boya Watutau
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Kawasan Taman Nasional Lore Lindu
Batas Selatan Desa Talabosa
Batas Timur Desa Maholo (Lore Timur)
Batas Utara Desa Wanga

Kependudukan

Jumlah KK 463
Jumlah Laki-laki 1020
Jumlah Perempuan 832
Mata Pencaharian utama BERTANI (sawah dan kebun)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejak dari zaman purba hingga zaman megalitikum masyarakat adat pekurehua watutau telah hidup dan menetap secara turun temurun di wilayah Watutau. Hal tersebut ditandai dengan adanya bukti peninggalan purba diantaranya, Guci yang terbuat dari tanah untuk jadi peti mayat yang dalam penyebutan lokalnya KORI BENGKI.
Wanua (Wilayah) watutau adalah perkampungan lama (Wanua Sae) yang sejak dahulu telah hidup dan berkembang masyarakat dalam komunitas adat. Pada permulaanya, sistem kehidupan mereka telah diatur dan dipimpin oleh Raja (MAGAO/DATU).
Menurut informasi dari petua adat Lembah Lore, bahwa Watutau bekas kedudukan kerajaan RABA berdasarkan hasil penelitian para peneliti


Tiongkok bahkan dari Mahasiswa UGM.
Di abad ke 20 dikuasai oleh pemerintahan kompeni belanda. Sejak itulah pemerintahan seluruh tampo Ada Lore dipegang oleh Kabo sebagai Raja/magao pada tahun 1913 yang pada kemudian wafat pada tahun 1946. Kemudian pemerintahan tersebut dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Sudara Kabo dan masa kepemimpinannya berkisar 1946-1953. Selanjutnya Berobah istilah pemerintahan dan bukan lagi Raja tetapi menjadi Suap Raja yang dipimpin oleh YONTO PELIMA dari 1954-1957. Pada tahun 1958, 1959 hingga tahun 1961 berubah istilah pemerintahan menjadi kecamatan Lore yang berkedudukan diwatutau yang dipimpin oleh Tomas Gembu.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pengelolaan sumber daya alam sesuai kesepakatan wilayah Adat Pekurehua tanah watutau berdasarkan pembagian secara arif oleh leluhur dan di percayakan kepada aturan adat. Antara lain yaitu
- Hutan adat/hutan kramat tidak boleh di olah
- Hutan rimba tidak boleh dijadikan lahan pertanian kecuali hanya untuk memanfaat hasil hutan antara lain; rotan, berburu, obat-obtan
-Hutan bekas perekubunan peninggalan nenek moyang yang sudah menjadi hutan kembali dan boleh di olah kembali suatu saat (minta izin dengan orang tua adat)
 
Tanah adat begitu luas, di kuasai dan di kelolah baik secara Kelompok/komunal maupun individu yang sudah di atur sejak nenek moyang yang mendiami wilayah ini hingga sekarang.
Dengan status kepemilikan baik secara kelompok maupun individu di atur oleh aturan adat secara turun temurun.
 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Watutau
Struktur Ketua (Galara), Sekretaris (topodede Lolita) Anggota (Tophugana Masyarakat/Warga (Tauna)
Mengatur tatanan kehidupan Komunitas masyarakat adat, baik urusan ritual adat pembukaan lahan sampai panen, ritual pernikahan, ritual penyembuhan/mengobati orang yang sakit, urusan sengketa tanah, sengketa pertikaian. maka lembaga adat inilah yang berfungsi untuk mengatur segala hal demi kepentingan masyarakat banyak (Tauna) atas dasar aturan adat secara turun temurun dari leluhur/sang pencipta.  
Dilakukan berdasarkan musyawarah adat 

Hukum Adat

Setiap ketentuan dan kesepakatan yang di putuskan oleh Lembaga Adat tentang aturan-aturan , wajib di patuhi setiap warga Masyarakat watutau

 
Perkawinan, Perzinahan, pencurian, sengketa tanah.
Salasatu satu keunggulan Adat Istiadat yang dianut oleh seluruh masyarakat adat pekurehua dimana setiap ada masalah antar masyarakat setempat dapat diselesaikan secara adat. Demikian juga kasus persinahan (BUALO)
Bualo terbagi atas beberapa bagian :
- Perbuatan (Babehia)
Adalah perbuatan seseorang yang mlanggar aturan adat.
- ,pelanggaran hukum Perkawinan, dimana seseorang yang(MOKARA-KARA, HALOLO KANDUPA DARA, ): bagi siapa yang secara sadar melakukan zina maka akan disidang dibalai desa dengan syarat 1. Mengadakan babi 1 ekor untuk perempuan yang dipotong pada saat sidang berlangsung. 2. Satu ekor babi untuk laki-laki yang diuangkan dengan nilai Rp.2000.000. 3. Mengadakan uang duduk sidang sebesar 2500.000. 4. Menjamin makan dan minum peserta sidang. Apabila, kedua yang bersangkutan tidak sepakat untuk menyatu (Kawin) maka, Pihak laki-laki akan dikenakan sanksi 3 ekor kerbau. 1. Satu ekor sebagai pengganti suami. 2. Satu ekor sebagai pemulihan nama baik keluarga pihak wanita.


3. Satu ekor sebagai pemeliharaan bay apabilah sudah hamil.
- Kesemuanya ini diberi jangka waktu 1 bulan per satu ekor.
- Demikian pulah perselisihan tanah, apabila ada kesalah pahaman dalam aturan pemakaian tanah juga masi dapat diselesaikan secara adat yang diatur berdasarkan asas kekeluargaan.
 
Contohnya tentang Tanah:
Sipengelolah pertama apabila ada yang ingin mengelolah kembali harus ada kesepakatan bersama dalam hal ini hanya sifat pinjam (POMBEHOLOI).
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Pertanian : Sawah (Bonde Keowai) dan Kebun (Bonde Kakau)
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Bada (Kunyit) - Bada ntomate (Tumulawak) - Hehi Tobehoa (Sese Putih) - Gambu Anitu (Jambu Setan) - Baulu (Daun Siri) - Harao (Pinang Hutan) - Handutu atau pangana (Pinang Kampung) - Peda (Kapur sirih) - Tabako (Daun Tembakau) - Hinuntu (Rumput Dukun Anak) - Humpi Meo (Kumis Kucing) - Lolo Gambu (Pucuk Daun Jambu) - Lite Loka (Geta Pisang)
Papan dan Bahan Infrastruktur Uru, (Cempaka) Roa (Damar Babi) Koronia (Kayu cina) Leda (Ekaliptus) Tawiri (Kayu Besi) Tala (Bambu) Nahe (Pandan Hutan) Lauro (Rotan) Bono (Kulit Kayu) Hulo Kau (Damar)
Sumber Sandang Tea (Jenis Beringin yg ditanam) Koli Katewu (Kulit Kayu Beringin) Nahe (Pandan Hutan)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Beau (Kemiri) Kula Pare (Jahe) Kula Goa (Rica) Bada (Kunyit) Huku (Kencur) Sederei (Sedrei) Bala Kama (Daun Kemangi) Tangkada (Solasi) Lengkuas Hare (daun Sere)
Sumber Pendapatan Ekonomi Pertanian dan Berternak