Wilayah Adat

Lusan

 Teregistrasi

Nama Komunitas Lusan
Propinsi Kalimantan Timur
Kabupaten/Kota PASIR
Kecamatan Jaro/Muara Koman
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 53.593 Ha
Satuan Lusan
Kondisi Fisik
Batas Barat -
Batas Selatan
Batas Timur
Batas Utara

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama -

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Nama Lusan diambil dari nama sungai Lusan yang merupakan anak sungai Kendilo. Kampong Lusan sudah ada sejak jaman kerajaan Paser masih berdiri. Tidak diketahui tahunnya dengan pasti. Namun perkiraan para Tuo Kampong, Kampong Lusan sudah ada sejak jaman Belanda. Awalnya Kampong Lusan dihuni oleh Dayak Paser Luangan. Tidak ada informasi pasti apakah masyarakat Luangan merupakan masyarakat asli Lusan atau pendatang dari daerah lain. Informasi yang didapat menyebutkan bahwa masyarakat Luangan merupakan bagian dari dayak yang berasal dari Kalimantan Tengah. Hal ini menjadi masuk akal karena wilayah Lusan berbatasan langsung dengan Kalimantan Tengah. Ketika kerajaan Paser masih berdiri, berpuluh tahun sebelum Indonesia merdeka, seorang keturunan raja Paser berkunjung ke suatu pemukiman di Kalimantan Tengah. Kepada penduduk setempat, beliau menawarkan suatu jabatan dan wilayah yang harus dijaga jika bersedia menerima tawaran tersebut. Mabilis dan Mabintang, dua orang bersaudara menerima tawaran tersebut. Dianggkatlah keduanya menjadi Manti (penguasa sub DAS). Dua bersaudara tersebut bersama keluarganya diberi wilayah kekuasaan yang terletak di kiri mudik sungai Kendilo mulai muara sungai Rongan, sebelah kanan mudik sungai Rongan hingga akhir kepala sungai. Kemudian sepanjang kiri mudik sungai kendilo sampai muara sungai Pemerayan menyusuri kiri mudik sungai pemerayan sampai kemuara sungai Tepan dan menyusuri sepanjang kiri mudik sungai Tepan hingga akhir kepala sungai Tepan. Pada saat itu daerah kanan mudik sungai Kendilo sudah dihuni oleh masyarakat Paser Luangan yang lebih dulu ada jauh sebelum kedatangan rombongan keluarga Mabilis dan Mabintang. Masyarakat Paser Luangan saat itu dipimpin oleh Ogo Buno yang mempunyai tiga anak yaitu Nesau, Kasap dan Kajau. Pada saat pemerintahan belanda ada kebijakan yang mengharuskan masyarakat dan kelompok masyarakat untuk berkumpul dan menetap disuatu pemukiman tertentu. Maka Ogo Buno mengajak kelompok Mabilis dan Mabintang untuk bergabung dengan keluarganya dalam satu pemukiman. Ogo Buno bersedia memberikan beberapa hectare lahan untuk dikelola keluarga Mabilis dan Bintang. Mabilis setuju, maka diberilah lahan yang terletak disekitar sungai Lusan. Gabungan dari dua keluarga inilah yang melahirkan keturunan yang menguasai wilayah Lusan.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Umo atau ladang
Lati atau belukar. Terbagi menjadi 2 macam yaitu LatiTuo atau belukar tua dan Lati Burok atau belukar muda.
Alas atau Hutan. Terbagi menjadi 2 macam yaitu Alas Tuo atau hutan tua dan Alas Burok atau hutan muda
 

Kelembagaan Adat

Nama -
Struktur Penggawa Manti Tuo Kampong
Penggawa : untuk menguasai DAS
Manti untuk mengurus sub Das
Tuo Kampong untuk mengurus wilayah Kampung  

Hukum Adat

Mpolo atau Sempolo. Asal kata sempolo adalah Olo yang berarti hari. Kebanyakan orang mengartikan sempolo sebagai kegiatan gotong royong. 
memanen madu, pemilik pohon madu selalu menyertakan seluruh warga kampung bahkan mengundang warga kampung tetangga. Hasil panen dibagi sama rata. Bahkan bayi yang masih dalam gendongan jika hadir pada acara panen tersebut akan mendapat bagian yang sama banyaknya dengan yang lain. Demikian pula halnya dalam acara menuba ikan. Aturan lainnya mengatur bahwa seseoran yang bukan anggota dalam rumah tangga, tidak boleh semaunya masuk lahan orang lain dan mengambil sesuatu tanpa ijin pemiliknya. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan -
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi