Wilayah Adat

Cek Bocek Selesek Rensuri

 Teregistrasi

Nama Komunitas Cek Bocek Selesek Rensuri
Propinsi Nusa Tenggara Barat
Kabupaten/Kota SUMBAWA BARAT
Kecamatan Ropang
Desa --
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 29.409 Ha
Satuan Cek Bocek Selesek Rensuri
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran,Pesisir,Bahari (Laut)
Batas Barat Desa Ai Ketapang Babar, Kec. Luyuk
Batas Selatan Pantai Laut Selatan
Batas Timur Desa Labangkar, Kec. Ropang.
Batas Utara Desa Lebin, Ropang, Kec. Ropang Barat

Kependudukan

Jumlah KK 312
Jumlah Laki-laki 713
Jumlah Perempuan 595
Mata Pencaharian utama Pertanian, berburu, dan memanfaatkan hasil hutan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

SEJARAH KOMUNITAS CEK BOCEK
Pada abad ke 14 di wilayah Nusantara sedang aktifnya perdagangan dan penyebaran Agama Islam, dimana pedagang-pedagang Gujarat dari Timur Tengah melakukan pelayaran melalui Samudera Pasai. Sambil berniaga, pedagang Gujarat juga melakukan syiar Islam pada setiap wilayah yang disinggahi, maka dalam waktu singkat banyak kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara juga melakukan hal yang sama ke wilayah lain. Singkat kata, bahwa di Pulau Sumbawa juga menjadi sasaran perdagangan dan syiar Islam baik dari arah pantai selatan maupun pantai utara.
Pantai selatan pulau Sumbawa pada tahun 1492 disinggahi oleh kapal layar Gili Koana yang di nakodai oleh Datu Awan Mas Kuning dengan membawa anak buah kapal yang berasal dari Suku Melayu, Suku Plowe Timor, Surabaya Huja, Selaparang dan Lahat Sumatera Selatan. Kapal layar Gili Koana pertama kali menyandar di tanjung Senare (Telok Sedo Liang Song) dekat boa Ptesa dan menurunkan seluruh muatannya. Atas perintah Datu Awan Mas Kuning, seluruh anak buah kapal melakukan orientasi untuk memilih lokasi yang cocok sebgai tempat tinggal, hingga ke wilayah pedalaman. Disamping itu kapal layar Gili Koana melakukan penyisiran di wilayah pantai ke arah timur hingga di teluk Sengane. Hasil orientasi, baik ke wilayah pedalaman maupun yang menyusuri pantai, rombogan yang di pimpin oleh Datu Awan Mas Kuning bertemu dengan kelompok orang yang hidup di pedalaman dengan kehidupan sehari-harinya berburu (meramu), (bahasa Berco : bajompang).
Orang-orang yang masih meramu ditemukan sebanyak 9 kelompok, dimana tiap kelompoknya terdiri dari 4 sampai 5 anggota. Dengan bertemunya dengan orang-orang yang masih meramu ini, maka Datu Awan Mas Kuning memutuskan untuk menetap dan mengembangkan budidaya pertanian di lokasi Lar Uma Balik (kebon talo). Misi Datu Awan Mas Kuning dalam syiar Islam tetap berjalan hingga pada tahun 1512 seluruh komunitas harus meninggalkan lokasi tersebut, karena usaha budidaya pertanian diserang oleh hama kodok berduri yang populasinya sangat banyak dan tikus besar (laho kukut).
Lokasi yang menjadi tujuan berikutnya di Lang Lede (lang : padang), namun di lokasi ini hanya beberapa tahun saja, karena seluruh usaha pertaniannya diserang oleh sejenis jamur beracun (kulat prit) yang tumbuh di batang kayu akibat pembusukan. Oleh karena itu Datu Awan Mas Kuning memerintahkan untuk meninggalkan wilayah tersebut dan mencari lokasi yang lebih baik. Maka seluruh komunitas meninggalkan Lang Lede hingga menemukan suatu lokasi yang dianggap cocok yaitu di Lang Baha (baha: bawah). Di lokasi Lang Baha juga mengalami gangguan, yaitu kondisi alam di wilayah ini tidak cocok untuk dijadikan pemukiman dan usaha pertanian. Belum terlalu lama kominitas ini menetap, tiba-tiba sudah mendapat gangguan berupa angin yang disertai debu. Maka atas musyawarah seluruh komunitas memutuskan untuk menuju ke Selesek, lokasi ini merupakan tempat orang-orang bajompang beraktivitas.
Rombongan Datu Awan Mas Kuning melakukan musyawarah dengan orang-orang Bajompang yang diwakilkan oleh Jompang Kuang Bira, Jompang Malinger, Jompang Jaluar, Ai Kalenang, Lang Songe, Rangajam, Pasura, Tajamu dan Tungkus Udat. Dalam musyawarah ini rombongan Datu Awan Mas Kuning minta izin untuk menetap di Selesek dan hidup berdampingan dengan orang bajompang. Nampaknya orang bajompang menyambut baik niat rombongan Datu Awan Mas Kuning untuk menetap dan hidup berdampingan, meskipun mereka berbeda keyakinan. Orang bajompang masih menganut keyakinan leluluhurnya, sedangkan rombongan Datu Awan Mas Kuning beragama Islam menyembah kepada Allah yang Maha Kuasa.
Hidup berdampingan yang belum berjalan lama kemudian kedua kelompok besar ini melakukan musyawarah lagi untuk membentuk pemukiman yang lebih luas. Keputusan musyawarah tersebut menghasilkan nama-nama lokasi pemukiman, yaitu Dodo Aho (kelihatan jauh), Dodo Baha (Jauh dilihat dari bawah), Selesek, Suri, Lebah, Beru, dan Jeluar.
Pada tahun 1520 terbentuklah system pemerintahan dengan nama Pemerintahan kedatuan Awan Mas Kuning yang membawahi 7 pemukiman. Kepala pemerintahan dipimpin langsung oleh Datu Awan Kuning dan wakilnya adalah Cek Bocek. Atas mandat dari Datu Awan Kuning maka dalam menjalankan roda pemerintahan Cek Bocek membentuk Kementrian, yaitu Kementrian Teme Dodo, Selesek (Cek Bocek), Kota Kedatuan Sury (Sury), Lebah (Kanurunan Lebah) dan Beru – Jeluar (Panyeberu). Sementara Datu Awan Kuning mendapatkan sebutan baru, yaitu Balang Kelap. Seluruh jalannya roda pemerintahan ini di control oleh wakil kepala, yaitu Cek Bocek.
Pada tahun 1622, Datu Awan Kuning membuat wasiat, yang isinya menyebutkan sebagai berikut :
He….reko, ahi, anak, lar lamat ka a
Segalabere’kakili sampar benteng
Jangka atu balamung lar lamat ka a
Ita tino kuasa
Kakili bapak Datu
Turun temurun jangka sempu pitu
Kaseratan Datu Awan Mas Kuning
Wilaya suri reen selesek kakili nelu seribu telu rates lima pulu balu
Tin istambul datu awan kuning nyan tana selesek asal kakili buin lala
Jendre buin racen keringking, pamali, tuhhung, ai nunuk, kamasar, samaning,
teme, salaparang, huja, batu balamung, kebun, talo uma balik lang lede, selesek dodo
jangka sampar laun do…do…jangka do. Sury, leba, baru, jeluar, lawang
rare , kamilas, sampar banteng, lar lamat ka a kakili datu awan kuning jangka
lo maika tetap ya sising adat istiadat CEK BOCEK
Hingga pada tahun 1623, Kerajaan Goa di Sulawesi yang dipimpin oleh Karaeng Maro Wanging mempunyai inisiatif mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Samawa, termasuk Pemerintahan Datu Awan Mas Kuning. Kemudian seluruh kerajaan kecil di Samawa tidak terkecuali Pemerintahan Datu Awan Mas Kuning menghadiri undangan (pemberitahuan) tersebut. Singkat kata, Pemerintahan Datu Awan Mas Kuning menolak untuk dipersatukan dengan alasan bahwa Pemerintahan Datu Awan Mas Kuning adalah pemerintahan yang dilandasi oleh adat istiadat dari beberapa suku dan bukan bentuk kerajaan atau kesultanan. Kerajaan Goa dan Kerajaan kecil lainnya yang ada di Samawa membuat kesepakatan yang dituangkan dalam suatu perjanjian yaitu “Kerajaan Goa tidak akan pernah membinasakan Adat Istiadat Kepemerintahan kedatuan Awan Mas Kuning dan Kaerajaan Goa silakanlah merintah sesuai dengan bentuknya, ” dan Islamlah sebagai pondasi.
Pada tahun 1628, Datu Awan Mas Kuning meninggal dunia maka pemerintahan di lanjutkan oleh putra pertamanya M Hatta yang beristrikan Wangsari. Pemerintahan M Hatta berjalan selama 62 tahun yaitu sejak sepeninggalan Datu Awan Mas Kuning dari tahun 1628 hingga tahun 1692.
M Hatta meninggal dunia pada tahun 1692, kemudian pemerintahannya dilanjutkan oleh putra pertamanya yang bernama Usman. Selama pemerintahan Usman dengan kebijakan pertahanan wilayah dan mempererat hubungan dengan komunitasnya, strategi tersebut mendapat sambutan positif sehingga Usman mendapatkan gelar sebagai Pua Adat. Untuk memudahkan pertahanan wilayah maka Usman memperkecil wilayah kedaulatannya, yaitu di bagian barat sampai ke Sampar Benteng, Jeluar, Beru, Lebak, Selesek, Sury dan Dodo. Dibagian selatan sampai di batas laut selatan dan dibagian timur sampai di Batu Balamung dan dibagian utara sampai di Bolon Tenga, Batu Beranak, Srihi dan Kamilas Suir Manis.
Pada saat Usman menjalankan pemerintahannya, di Samawa terdengar ada berita tentang sayembara ketangkasan yang diadakan oleh Kerajaan Sidenrang, maka Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I atau bernama Amasa Samawa/Datu Bala Balong/Datu Apit Ai pada masa zaman Masdina, pada waktu itu di undang melakukan pertemuan khusus. Diundang pula seluruh KeDadatuan dan para petinggi lainnya untuk membicarakan perjodohan Ratu Kerajaan Sedenrang dari tanah Ugi yang terkenal kecantikannya. Untuk itu Kerajaan Sidenrang membuat sayembara ketangkasan sepak raga yang terbuat dari emas. Pemenang dari sayembara ketangkasan ini akan mendapatkan Ratu Kerajaan Sidenrang, maka seluruh undangan mendaftarkan diri sebagai peserta, tidak terkecuali Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I (Amasa Samawa). Singkat kata, sayembara ketangkasan tersebut dimenangkan oleh Amasa Samawa, maka ia mendapatkan jodoh Ratu Kerajaan Sidenrang yang cantik itu.
Pemerintahan Usman (Pua Adat) hanya berjalan dari tahun 1692 hingga tahun 1728, kemudian pemerintahannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama Tunru bin Usman. Pemerintahan Tunru melanjutkan kebijakan ayahnya dan mengintensifkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-harinya. Antara Agama Islam, budaya dan adat dipadukan dalam sistem pemerintahan Tunru bin Usman, sehingga identitas komunitas ini melekat pada diri anggotanya serta saling menghormati masing-masing kadaulatannya. Tunru bin Usman yang bergelar ”Pua Adat” memerintah dari tahun 1728 hingga tahun 1814, kemudian pemerintahan diwariskan pada keturunannya.
Setelah meninggalnya Tunru bin Usman maka diteruskan oleh putranya yang bernama H. Damhudji dari tahun 1814-1912. Selama H. Damhuji menjalankan pemerintahannya banyak mengalami tantangan, cobaan ini datangnya tidak saja dari luar Samawa, tapi juga datang dari Samawa. Kesultanan Samawa nampaknya sudah mengingkari perjanjian tahun 1623 yang isinya saling menghormati kadaulatan masing-masing. Nampaknya Kesultanan Samawa terpengaruh hasutan dan bujuk rayu Kolonial Belanda serta memanfaatkan Kesultanan Samawa untuk mengusir seluruh komunitas yang dipimpin oleh H Damhudji. Kolonial Belanda berhasil mengadu domba antara Kesultanan Samawa dengan Komunitas H Damhudji. Maka atas kebijakan H Damhuji untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar, ia mengikuti daulat Kesultanan Samawa agar mengosongkan wilayah pemukiman dan dipindahkan ke lokasi lain. Kesultanan Samawa sudah mempersiapkan lokasi dan dipersilahkan kepada warga Dodo, Selesek, Rensury, Jeluar, Beru, dan Lebah, di persilahkan membuka hutan untuk dijadikan pemukiman.
Daulat Kesultanan Samawa mendapat perlawanan dari komunitas, seluruh komunitas masih tetap bertahan dan tidak ingin dipindahkan. Maka dengan kekuatan fisik dan mendapat bantuan dari kolonial Belanda, Kesultanan Samawa mengusir seluruh komunitas untuk menempati lokasi yang sudah ditentukan, yaitu :
 Selesek dan Rensuri serta sebagian kecil masyarakat Beru dipindahkan ke Lawin
 Dodo dipindahkan ke Labangkar
 Lebah ke Babar (lunyuk)
 Beru dipindahkan ke Ledang
 Jeluar dipindahkan ke Lamurung
Pengusiran ini terjadi antara tahun 1930 hingga tahun 1935, karena komunitas masih mengandalkan usaha pertaniannya di lokasi yang lama. Selama melakukan hijrah, terucap kalimat yang ditujukan ke Sultan Baharuddin III yang menggunakan kekuatan Kolonial Belanda dalam pengusiran, yaitu :
Dapit padado lodana
Uleng pamojong makura
Pararen tu kanga jangi
Kacendeng enteng ramodeng

Setelah sampai ketempat peristirahatan
Membuka bungkusan tembakau atau makanan lainnya
Merenung nasib di perjalanan yang begitu malang
Jawabannya hanya iman yang kokoh
Dari tahun 1912 hingga tahun 1930, H. Damhuji memimpin 6 komunitas dengan damai dan warga sejahtera, tapi pada 1930 hingga tahun 1938 merupakan masa kepemimpinan yang sangat berat dan sebagai tanda-tanda tercerai berainya 6 kominitas tersebut. Pada tahun 1959 H Damhuji meninggal dunia, dan warisannya diserahkan kepada Hasbullah untuk melanjutkan perjuangan leluhurnya.
Perkembangan zaman mulai berubah, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya, hal inilah yang mempengaruhi kepemimpinan Hasbullah. Nilai dan norma yang selama ini melekat pada diri komunitas lambat laun mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Disamping itu, 6 komunitas selama beberapa abad hidup berdampingan, kini sudah ada jarak dan penghalang yang sulit untuk di tembus.
Kepemimpinan Hasbullah sudah tidak efektif, adat istiadat mulai pudar sehingga terhentilah kepemimpinan Adat Hasbullah selama lebih kurang 20 tahun. Hilangnya sistem pemerintahan adat bersamaan dengan diberlakukannya undang undang tentang pemerintahan desa pada tahun 1974, maka komunitas yang dipindahkan secara paksa ke lokasi masing-masing menggunakan nama baru, seperti Desa Lebangkar, Desa Babar, Desa Murung dan Desa Ledang. Pada tahun 2004, desa Lebangkar dimekarkan menjadi 2 desa, yaitu Desa Lebangkar dan Desa Lawin.
Lawin merupakan lokasi yang ditentukan berdasarkan daulat Sultan Kaharuddin III untuk warga Selesek dan Rensury sebagai tempat tinggal dan membentuk pemukiman. Karena pada diri masing-masing komunitas sudah melekat adat istiadat yang diwariskan oleh leluhurnya secara turun temurun, maka dibawah kepemimpinan Dato Sukanda RHD menghidupkan kembali sistem pemerintahan adat yang diberinama ”Cek Bocek”.
Cek Bocek adalah nama seorang leluhur yang di tunjuk oleh Datu Mas Awan Kuning sebagai tangan kanannya (wakil) dengan perannya sebagai pengawas jalannya roda pemerintahan adat. Disamping itu Cek Bocek juga sebagai kedatuan Selesek - Rensury, bertepatan dengan tahun 1422 H, Dato Sukanda melanjutkan kepemimpinan adatnya, hingga saat ini (tahun 2010).
Saksi sejarah yang masih hidup yaitu Bapak Ahum atau biasa dipanggil Ne Mareng saat ini beliau telah berumur ± 105 tahun. Bapak Hasim Padadu atau biasa dipanggil Ne Mata berumur sekitar ± 103 tahun. Bapak Undru dengan panggilan Ne Ande berumur ± 97 tahun dan Bapak ne Okol 98 tahun.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

• Hutan Titipan adalah kawasan hutan yang tidak boleh diganggu.
• Hutan Tutupan adalah kawasan hutan yang berfungsi menjaga tata air
• Kawasan bukaan adalah kawasan budidaya yang dimanfaatkan untuk sawah, pemukiman, kebun dan prasarana lainnya.
 
Sistem pengaturan lahan diatur oleh komunitas adat sendiri yang memberlakukan aturan hukum adat dalam tata cara guna lahan. Yaitu perindividu dan perkelompok, misalnya dalam hal dijadikan areal sawah, Ladang, dan perkebunan 

Kelembagaan Adat

Nama Parenta Ne’ Adat Cek Bocek
Struktur Lampiran
(Uraian Singkat) Kelembagaan Adat merupakan bentuk perangkat kerja adat yang berjalan di dalam masyarakat adat Cek Bocek Selesek Reen Sury. Adapun kelembagaan adat di dalam komunitas masyarakat Cek Bocek Selek Reen Sury adalah sebagai berikut :
1. Menteri Teme’ Dodo tugasnya sebagai penghubung pengatur masyarakat Lebangkar secara hukum adat tentang apa yang menjadi acuan dan ketetapan hukum adat yang diberlakukan.
2. Kanaruan Lebah Mengepalai tata Pemerintah adat dalam proses perdagangan antar komunitas dan sekaligus urusan masyarakat Lebah yang ada di Lunyuk
3. Cek Bocek merupakan pusat pemangku pemegang kekuasaan aturan adat (kepala suku)
4. Tabib Adat adalah berfungsi sebagai pengobatan penyakit
5. Logat Adat merupakan berfungsi untuk menjaga, melindungi dari gangguan makhluk halus atau kekuatan gaib
6. Galo Adat berfungsi sebagai penjagaan terhadap hutan
7. Pangkeang Paramuk Adat berfungsi sebagai peñata rias dalam acara adat
8. Satu Ma’ini dipercayakan sebagai pemberi berkah pada tanaman dan hasil bumi masyarakat adat
9. Juru Tulis Adat berfungsi sebagai pencatatan dalam bentuk tulisan seperti pada acara perkawinan, acara sedekah sekat dan kegiatan adat yang lainnya
10. Juru Putar bertugas dan bertindak sebagai pemberitaan dan pemberitahuan secara lisan kepada masyarakat dalam acara dan kegiatan adat
11. Riang Penggawa Adat merupakan keamanan masyarakat adat
12. Rabasa/Rabasan berfungsi sebagai orang yang menyampaikan pesan dalam acara dan kegiatan adat secara terperinci di dalam masing-masin keluarga adat
13. Pedangan/Parenti berfungsi sebagai pemegang kontrol sekaligus pengarahan dalam acara dan kegiatan adat
14. Benang Rameng berfungsi untuk membantu melengkapkan segala pekerjaan dan kebutuhan serta perlengkapan Logat Adat .
15. Tau Kaloso Adat merupakan pemuda adat yang bertugas membantu dalam acara dan kegiatan adat
16. Sury Semprok, adalah orang yang bertugas mengurus wilayah adat Sury.
17. Panyeberu; yang mengurus wilayah adapt beru
 
( Rapulung adat/musyawarah adat ) 

Hukum Adat

1. Sistem kearifan persi masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya alam adalah memanfaatkan hasil hutan adatnya secara bersama atau kolektif untuk keberlangsungan hidup secara berkesinambungan, sepertihalnya produksi lebah madu dan pengembangan titik jalit ( produksi gula merah dari air enau ).
2. Sistem pengelolaannya adalah seperti halnya dalam pengelolaan produksi gula merah yang diracik dari air enau untuk di jadikan gula kominitas adat mengembangkan 150 titik jalit ( 150 pusat produksi yang masing-masing jarak yamg satu ke yang lainya ± 150 m – 200 m yang tersebar dalam wilayah hak ulayat .
 
Penyelesaian sengketa kasus maling 
Sistem Peradilan Adat merupakan hukum adat yang berlaku di dalam komunitas adat. Sistem peradilan adat ini dilakukan dan berfungsi sebagai penegakan kebenaran atupu keadilan di dalam masyarakat adat Cek bocek Selesek Reen Sury. Seperti contoh kasus yang pernah terjadi di bawah ini:
1. Di kenakan hukum seputar oleh tabib adat bagi yang mencuri, yang disaksikan oleh warga masyarakat adat itu sendiri.
2. Bagi seseorang yang berbuat asusila / serong di keluarkan dari desa.
3. Bagi yang memiliki hewan ternak yang memakan tanam-tanaman maka akan diadili dengan penyemblihan hewan dan akan diganti rugikan pula oleh pemilik hewan tersebut kepada pemilik tanaman.
Tahapan Penyelesaiaan adalah sampai ketemu akar permasalahan baru diadili secara bersama oleh pemangku adat dan disaksikan oleh pejabat komunitas dengan di berlakukannya hukum adat
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan --
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur --
Sumber Sandang --
Sumber Rempah-rempah & Bumbu --
Sumber Pendapatan Ekonomi --