Wilayah Adat

Kampong Salu Tepa

 Teregistrasi

Nama Komunitas Salu Tepa
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota LUWU
Kecamatan Laromong (Rante Alang)
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.585 Ha
Satuan Kampong Salu Tepa
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat ( Buntu/Gunung Dama Pamuntang Kabupaten Sidenreng Rappang ( Sidrap )
Batas Selatan Salu Rawwan ( sungai Rawwan ), wilayah Desa Bukit Sutra Kecamatan Larompong
Batas Timur Salu ( sungai Pangalloan Wilayah Adat Salutepa ) Desa Rante Alang dan Desa Bukit Sutra Kecamatan Larompong
Batas Utara Salutepa dibatasi oleh Buntu ( Gunutung Potok ) wilayah Desa Kaladi darusalam dan desa poringan Suli Barat Kecamatan Suli Barat

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Keberadaan Komunitas adat Salutepa asal-usulnya secara historis berasal dari Puang Balliara ( berasal dari Batu ) pada Tahun 1914, kemudian membentuk suatu kampong atau biasa disebut Tondok ( Kampung ). Setelah berkembang dan menetap di kampong tersebut dan diberi nama Salutepa ( Berasal dari Tomakaka pertama Salubuah.
Salutepa ( berasal dari Tomakaka pertama Salubuah ) itu diambil dari bahasa local Luwu yang berarti sebuah kampong yang bebas gangguan dari luar. Setelah disepakati nama kampong tersebut bernama Salutepa( Berasal dari Tomakaka pertama Salubuah, maka masyarakat kembali melakukan musyawarah adat untuk menentukan pemimpin yang digelar Tomakaka dan parangkat adatnya, pada saat itu masyarakat mengangkat seorang Tomakaka pertama yang bernama Salubuah dan setelah Salubuah wafat pada tahun 1925, Pada saat Salubuah wafat kembali dilakukan musyawarah adat untuk mengangkat Tomakaka dan parangkat adatnya yang kedua bernama Mallibu,Begitupun seterusnya secara turun-temurun hingga saat ini sampai ke Tomakaka yang ke 3 ( Tiga ) yang dijabat oleh Salahu.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- Hutan Bukaan/Garapan (Kabo Panggala)
Hutan yang boleh di garap oleh masyarakat adat Salutepa, bukaan atau hutan garapan merupakan areal yang sudah dibuka maupun sebagian masih berupa hutan yang dipakai untuk pemukiman, kebun dan juga boleh dimanfaatkan untuk pemukiman, Perekebunan, dan Pertanian yang di awali dengan prosesi adat ( Ditamai atau di masuki ) .
 
Di dalam wilayah adat Saluetapa, secara umum penguasaan dan pengelolaan lahan hanya dimiliki secara individu. Wilayah/lahan inidividu ini merupakan area-area yang sudah dikelola oleh warga adat seperti area untuk Tondok (Kampung), dan Bela’ (kebun). Proses pembagian wilayah adatnya pun terjadi begitu saja sesuai dengan perkembangan zaman. 

Kelembagaan Adat

Nama Salutepa
Struktur - Tomakaka - Minjara - Bunga’Lalan - Sando - Masyaraka’ Ada’ .
- Tomakaka;
Mengatur, Memimpin Musyawarah Adat dan Mengambil Keputusan Apabila Ada Masalah Yang Terjadi dalam Masyarakat Adat.

- Minjara :
Kalau ada musyawarah adat tidak bisa di putuskan kalau tidak ada Minjara

- Bunga’ Lalan ;
Orang yang pertama membuka lahan atau yang memulai setiap kegiatan adat
- Sando ;
Mengobati kalau ada masyarakat yang sakit

- Masyaraka’ Ada’ ;
Melaksanakan dan mematuhi peraturan Adat yang Berlaku Sesuai keputusan Lembaga Adat.
 
Hampir secara keseluruhan semua pengambilan keputusan adat di tangan Tomakaka dan Minjara melalui dengan tata cara adat 

Hukum Adat

Di Wilayah Adat Salutepa pada umumnya berada pada wilayah Gunung ( Buntu ) Pa’tudingan, Buntu ( Gunung Dama Pabuntang ) secara administrasi berada di Desa Rante Alang Kecamatan Larompong. Kampung Salutepa sendiri dan Salu/sungai Pangalloan berada di tengah Gunung Buntu ( Gunung Dama Pabuntang, dan buntu/gunung patudingan tempatny turunya Puang Balliara ( Berasal Dari Batu ) tepatnya di salutepa Kecamatan Larompong Kabupaten Luwu dan juga termasuk klaim kawasan hutan lindung dan juga sebagian masuk wilayah konsesi tambang. Sebagai masyarakat adat, menjaga lingkungan merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar, karena kelestarian hutan dan lingkungan sekitarnya merupakan indikator keberlangsungan adat dan tradisi itu sendiri serta sebagai penyangga air/sungai Salutepa, Salu Lewong, Salu Pangalloan, salu Rawwan dan Salu Tepa
Tomakaka juga memiliki kebijakan-kebijakan lokal dalam mengelola dan mengakses hutan, dengan melakukan pembagian yang sudah dilakukan sejak awal keberadaannya dari turun-temurun yaitu:Hutan Hutan Bukaan/Garapan.
beberapa hal yang merupakan larangan adat yaitu;
1. Tidak boleh Mengambil sesuatu dari hutan titipan dalam bentuk apapun. Kecuali seijin dari pemangku adat (Tomakaka).
2. Tidak boleh merusak sumber mata air.
 
Hukum yang diterapkan di masyarakat Adat Salutepa secara umum ada tiga macam, yaitu ;
• Hukum adat adalah hukum atau sanksi yang diputuskan oleh seseorang atau para petinggi adat, berupa sanksi yang diberikan kepada seseorang yang melakukan pelanggaran adat dengan dasar Hukum yang secara Turun temurun dilakukan oleh Pemangku adat. dengan istilah “ Denda Satu ekor ayam, Disuruh usir dari kampong“.
• Hukum agama yaitu hukum yang mengacu pada kepercayaan masing-masing agama.
• Hukum Negara diterapkan apabila terjadi pelanggaran-pelanggaran sebagaimana yang ditentukan dalam tatanan hukum Negara
Hukum seperti;
- Denda satu ekor Ayam , adalah pelanggaran yang termasuk pelanggaran ringan seperti : tanpah pamit/permisi terhadap orang lain
- Diusir dari kampong dan tidak di bolehkan kembali kekampung, adalah pelanggaran yang masuk dalam kategori pelanggaran Berat
- Di bakar dari Tomakaka dan di sepakati oleh perangkat adat adalah pelanggaran yang masuk dalam kategori berat. Seperti melakukan asusila terhadap keluarganya
- Pembunuhan dan perampokan adalah pelanggaran termasuk kategori berat seperti : di pali ( di usir dari kampong dan pada saatnya selesai hukuman, itu bisa kembali kekampung.
Hukuman ini merupakan perlindungan kemanusiaan demi mengembalikan harga diri seseorang..
 
- Untuk pendatang yang masuk dalam Komunitas dan melakukan pelanggaran maka Hukum akan tetap diberlakukan, tanpa terkecuali sesuai dengan aturan yang berlaku didalamnya.
Ketika ada orang yang melakukan pelanggaran maka orang tersebut diberikan sanksi adat berupa sanksi berat seperti Dirambuang Langi’ ( di usir dari kampong ), dilabu ( di tenggelamkan ) dan Merugikan orng banyak seperti merusak mata air untuk kepentingan orang banyak ( di denda 1 pasang ekor ayam ) dimakan bersama masyarakat adat.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan • Sumber karbohidrat (padi, umbi-umbian, jagung, sagu): Padi (Pare Bela’ dan Pare Sawah). • sumber protein (berbagai jenis kacang-kacangan): Kacang hijau dan Kacang panjang. • Sumber vitamin (sayuran dan buah): Buah (Durian, Pisang , Nangka, Mangga,Aren, Langsat, Duku, Rambutan, Kopi dll). Sayuran (Sawi, Bayam, Kacang panjang, Terong, Daun singkong, Daun Lombak, Daun Lotong, Daun suka, Daun Pinak, Daun Bulu Nangko, Umbu Rotan dan Umbu Banga), Madu Hutan ( Trigona ).
Sumber Kesehatan & Kecantikan • Tumbuhan obat: kumis kucing, lampujang, jahe, kencur, Daun Sualang, Daun Sari kaja, Kulit Kayu Jawa, Daun Maradda’, Daun Bulu Nangko, dll. • Tumbuhan kosmetik: Kunyit, Lidah Buaya, Beras, Daun Pandan, kencur, Kemiri, Kaju Lange, Kelapa, dll.
Papan dan Bahan Infrastruktur bambu, kayu Kalapi, kayu uru, kayu kondo nio, kayu nato, kayu tariwan, kayu betao, kayu bitti, kayu sandana, kayu jabon, kayu sengon, kayu dengen, kayu polio, kayu sipate, dll.
Sumber Sandang kapuk, kapas, nase dan rotan.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cengkeh, cabe, jahe, sereh, daun bawang, daun cemangi, dengen, patikala, mangga, jarru/belimbing, jeruk asam, kunyit, merica, asam tuak, lengkuas, daun kedundung, dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi Cengkeh, Padi, Cokelat, Jagung, Sagu, Kayu, Rotan, Durian, Mangga, langsat, Rambutan, Cempedak, dll.