Wilayah Adat

Lipu (kampung) Pohoneang

 Teregistrasi

Nama Komunitas Pohoneang
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota LUWU UTARA
Kecamatan Seko
Desa Tana Makaleang
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 5.212 Ha
Satuan Lipu (kampung) Pohoneang
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Tanete Honeang, Tanete Manipi, Tanete Taropang, Salu Karama Mamuju Sulawesi Barat
Batas Selatan Haung Pangasaang, Hatu Pangasaang, lambang Haung Uro, Saluluang , Tanete Karukung (ba’san) WA Karingo dan Beroppa
Batas Timur Tanete Hulaing, Tanete Makole, Tanete Masura, Hatu Masura, Tanete Loko, Haung Sapine, WA Amballong
Batas Utara Haung Tomatua, Haung Betue, Sungai Betue, Haung Uro WA Hoyane

Kependudukan

Jumlah KK 316
Jumlah Laki-laki 181
Jumlah Perempuan 212
Mata Pencaharian utama Bertani sawah (ma’rano) dan berkebun (mukada’)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Tomessalu melahirkan 5 orang anak yaitu Hane, Honeang, Balong, Padang, Pottapa. Honeang adalah anak kedua Tomessalu. Mereka berpencar lagi mengikuti sungai betue dan menetap di Pohoneang bersama Pottapa, adiknya.
WA Pohoneang diambil dari nama orang pertama yang mendiami kampung tersebut. Honeang dan Pottapa adalah orang yang pertama mendiami WA Pohoneangyang berkembang sampai Pokkapang, Poak-poak, yang diakui sebagai satu WA Pohonenang. Pimpinannya adalah seorang Tobara dan akhirnya membentuk satu perkampungan. Setelah itu masyarakat kembali melakukan musyawarah (tosiaya’) untuk menentukan pemimpin yang digelar Katobarasan dan pada saat itu masyarakat untuk mengangkat Tobara pertama adalah Honeang, dilanjutkan oleh:
1. Honeang
2. Puppuare’
3. Tapundu (tubara maloppo)
4. Pomarisa’
5. Sisang
6. Matandena
Komunitas adat Pohoneang sudah berada sejak berdirinya Lipu’ Pohoneang yang masuk dalam Desa Tana Makaleang oleh Tobara pertama, sehingga masyarakat adat Pohoneang secara turun temurun mendiami kampung tersebut sampai sekarang dan menyebarluaskan adat istiadat sekaligus mengangkat perangkat adat Pohoneang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Panggala ada’ (hutan adat): hutan yang dititipka atau diwariskan oleh keturunan (rumpun) untuk dijaga. Hutan ini merupakan hutan larangan yang tidak boleh diakses atau diambil sumberdaya yang ada di dalamnya. Namun hutan ini boleh dipakai jika saatnya tiba, bagi keturunan Katobarasan untuk menempatinya.
Panggala kamban (hutan lebat): hutan yang merupakan batas antara panggala ada’. Hutan ini juga dijaga dan tidak boleh dimanfaatkan sumberdaya di dalamnya kecuali hanya untuk kepentingan adat.
Kurra’: lahan yang diolah oleh masyarakat lalu ditinggalkan hanya sampai 3 tahun lalu diolah kembali untuk ditanami tanaman palawija seperti sayur, padi, dll.
Kurra matua: lahan yang diolah oleh masyarakat lalu ditinggalkan sampai 15 tahun lalu diolah kembali untuk ditanami padi, cokelat, merica, dll.
Rano (sawah): lahan persawahan secara turun temurun menjadi sumber pangan yang diolah dengan sistem oengairan tradisional yang berada di Umbong-umbong (pinggir sungai), pangngisoang, tuyu, siborang, katujoanna, hassi, dll.
Polipuang (pemukiman): areal perumahan penduduk beserta sumber mata pencaharian bertani dan berkebun yang masih terjangkau oleh masyarakat untuk kebutuhan pangan.
 
1. Wilayah individu ini merupakan area-area yang sudah dikelola oleh warga adat seperti area untuk lipu (hunian), rano (sawah), dan mong kada’ (kebun). (individu)
2. Tanah yang dikelola scara bersama dan diambil manfaatnya untuk kebutuhan masyarakat adat seperti kayu dll (tana karapuan). (komunal)
Proses pembagiannya harus diputuskan oleh persetujuan Tubara’. Pongngarong yang akan menyampaikan informasi ke Tubara’ apabila ada yang membutuhkan area kelola untuk kehidupannya. Bentuknya rano, lipu’, panggala’ kamban (belukar), kada’ (kebun).
 

Kelembagaan Adat

Nama Pohoneang
Struktur Tubara’ Tubara’ Bine’ Pongngarong Pottappi’ Sando Pande bassi
Tubara’: mengatur, memimpin musayawarah adat dan mengambil keputusan apabila ada msalah yang terjadi dalam masyarakat adat.
Tubara’ Bine’: sebagai pendamping tobara’ dan mewakili tubara’ apabila berhalangan.
Pongngarong: mengatur pelaksanaan adat dalam wilayahnya dan melaporkan hasilnya kepada Tubara’
Pottappi’: bagian perlengkapan mengatur pelaksanaan tari-tarian adat
Pottappa: mengatur dan mengurus maslahj pertanian
Sando: membaca doa pada acara-acara adat seperti gagal panen, warga sakit, dan acara pesta adat.
Pande bassi: sebagai pembuat alat-alat seperti parang dan sabit yang digunakan untuk mengelola sawah dan kebun.
 
Hampir secara keseluruhan semua pengambilan keputusan adat di tangan tobara sebagai pemimpin lembaga adat.
Ada juga keputusan yang harus diambil melalui musyawarah adat (massalu) denmgan para perangkat adat.
Yang masuk dalam keputusan melalui musyawarah adat Pohoneang adalah jika terjadi perkelahian, pencurian, kasus tanah, asusila atau persinahan. Maka itulah yang akan melewati musyawarah untuk membuktikan informasi tersebut.
 

Hukum Adat

Murano: melaksanakan upacara adat setiap turun sawah atau sebelum menghambur beni.
Mapare: panen padi
Masiaya’: melaksanakan upacara adat pada awal musim tanam padi dan pada waktu selesai panen (syukuran panen)
Menggali kubur; apabila ada masyarakat adat yang menggali kuburan pada saat musim tanam padi maka padi akan dimakan tikus dan mengakibatkan gagal panen.
Masiaya’ (pesta panen): pertama kali yang dipanen dilakukan di sawah atau kebun pongngarong
 
Denda 1 ekor kerbau adalah pelanggaran berat seperti asusila dan merendahkan derajat orang lain.
Denda babi (khusus yang beragama nasrani) untuk saling memaafkan, hal ini dilakukan jika ada orang yang melakukan perselisihan.
Denda ayam untuk pelanggaran yang ringan semacam melakukan pencurian.
Semua itu dilakukan dengan cara bermusyawarah (massalu).
Aturan tersebut di atas diberlakukan kepada selurun masyarakat adat Pohoneang dengan maksud tidak mengulangi lagi pelanggaran tersebut dengan istilah Dipasahu Nai Lipu atau menadapatkan ijin. Segala yang akan dipakai atau dimakan harus bersih dari segala hal dan harus bisa menyampaikan apa adanya dengan kejujuran.
Hal ini bisa menimpa seseorang aoabila melakukan kelalaian atau pelanmggaran adat. Hukuman ini biasanya merupakan peringatan untuk menyadarakan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya sesuai dengan pelanggarannya.
Aturan tersebut di atas diberlakukan kepada seluruh masyarakat adat Pohoneang dengan maksud tidak mengulangi lagi pelanggaran tersebut. Mau mengambil sesuatu harus bicara dulu atau mendapatkan ijin.
 
Untuk pendatang yang masuk dalam komunitas dan melakukan pelanggaran maka hukum akan tetap diberlakukan tanpa kecuali sesuai dengan aturan yang berlaku di dalamnya.
Ketika ada orang yang melakukan perzinahan dengan istri orang lain maka orang tersebut diberikan sanksi berat seperti Dipasahui Nailipu dengan memotong satu ekor kerbau dimakan bersama masyarakat dan tidak boleh dibawa pulang ke rumah. Jika tidak dihabiskan maka akan dibiarkan saja di tempat tersebut.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, umbi-umbian, jagung: pare tarone’ mungada’ (padi kebun) dan pare morano (padi sawah) Kacang hijau, kacang panjang, kacang merah, kacang tanah. Buah durian, pisang, nangka, pepaya, mangga, langsat, kopi, buah pari, jagung, dll Sawi, bayam, kacang panjang, terong, daun singkong, daun pepaya, labu, labu siam, daun mayana, sayur pari, daun genjer, daun suka, kol, daun lotong, daun suka, umbu rotan, dan umbu banga.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kumis kucing: obat ginjal Revu nippon; obat menyembuhkan sakit perut Lampujang: campuran bedak Jahe, kencur: obat luka lebam Daun sari kaja: obat hipertensi Kunyit: obat penurun panas Kunyit, beras, daun pandan: campuran bedak Daun sualang, daun sari kaja, kulit kayu jawa, daun maradda’, daun bulu nangko, daun jambu biji, daun pari, bunga lida buaya Daun pandan, kencur, kemiri, kaju lange, kelapa, dll
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu uru (kayu cemara); tiang rumah adat Kayu besi: batang kayu bitti untuk dinding rumah Kayu meranti: batang kayu Kayu cempaka: rangka dan dinding rumah Kayu kalapi, kayu uru, kayu londo nio, kayu nato, kayu tariwan, kayu betao, kayu sandana, kayu jabon, kayu sengon, kayu dengen, kayu polio, kayu sipate: batang kayu untuk tiang, lantai, dan dinding rumah Batuy: alas tiang rumah Bambu: dinding dan lantai rumah
Sumber Sandang Bambu: membuat nyiru Daun pandan (nase): membuat bakul, tikar, tudung kepala Kapsa: membuat bantal dan kasur Rotan: membuat kursi
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cabe, kencur, jahe, sereh, lengkuas, daun bawang, daun kemangi, kunyit: campuran bumbu masak Mangga, belimbing, asam tuak, kedundung, dengen, patikala: penyedap masakan
Sumber Pendapatan Ekonomi Padi, kopi, cokelat, jagung, rotan, kayu, dll

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Keputusan Bupati Luwu Utara Nomor 300 Tahun 2004 PENGAKUAN KEBERADAAN MASYARAKAT ADAT SEKO DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU UTARA SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen