Wilayah Adat

Tondok/Kampong Marena

 Tersertifikasi

Nama Komunitas Marena
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota ENREKANG
Kecamatan Anggeraja
Desa Marena
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 676 Ha
Satuan Tondok/Kampong Marena
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Desa Singki (Galung, sarambu, Puang Bango)
Batas Selatan Kelurahan Mataran (Salu Kacu), Desa Singki (galung)
Batas Timur Desa Bubun Lamba (Buntu Pujan, Buntu Cemba
Batas Utara Desa Salu DewataDusun Malimongan (Buntu Balabatu), Dusun Sipate (Buntu Tammassuru)

Kependudukan

Jumlah KK 432
Jumlah Laki-laki 974
Jumlah Perempuan 937
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Asal usul masyarakat adat Marena awalnya dari orang yang pertama kali ada di wilayah ini bernama Pagunturan dalam kepercayaan orang marena Pagunturan adalah orang gaib yang muncul dari bambu tellang.

Dari cerita turun temurun Pagunturan disebut dengan julukan Tiba’tu Tallang yang artinya orang yang muncul dari dalam bambu, dalam perjalanan hidup Paganturan menikah dengan Paccanno, seperti Pagunturan, Paccanno menurut kepercayaan orang Marena berasal dari “To Mallendung” orang yang tidak nampak, Paccanno memiliki saudara laki-laki 2 orang yaitu Karanjai Batu bermukim di Tampo, Doke Ri Kotu bermukim di Cakke dan Paccanno ri Marena. Dari perkawinan Pagunturan dan Paccanno inilah yang beranak cucu dan berkembang di Wilayah Adat Marena

Masyarakat Adat Marena sangat menjaga bambu Tallang dan tidak pernah digunakan untuk Ma’peon (Membuat lemang), Bambu Tallang haanya di gunakan untuk membuat keranda mayat.

Masyarakat Adat Marena juga tak pernah membakar rumpun bambu telang ketika membuka lahan karena akan merusak rumah Paganturan.

Permulaan nama Marena sendiri muncul dari kebiasaan masyarakat ketika memastikan atau mengecek kesiapannya dalam melakukan sesuatu seperti kesiapan untuk berperang.
Marena dalam bahasa Duri yang merupakan bahasa keseharian mereka dalam berkomunikasi adalah kata dalam bentuk pertanyaan. sebelum berperang misalnya orang-orang Marena selalu berkata kepada kelompok mereka “Marena-rena ona moraka tu u?”. Dalam bahasa Indonesia pertanyaan ini setara dengan rangkaian kata pertanyaan seperti “sudah kah kalian siap-siap?”.

Dengan penyebutan kata pertanyaan tersebut yang selalu diucapkan ketika berkumpul maka kata inilah kemudian yang menjadi nama tempat yang hingga sekarang masih dihuni dan menjadi wilayah pemukiman orang-orang Marena.

Wilayah adat Marena dalam istilah adatnya disebut dengan gelaran “to ke’de kaluku to disalassa’ jawi-jawi tang di puangngi tang dia ada’i puang kalena ada’ kalena messun dialukuna tang dipatamai aluk ”.

To ke’de kaluku artinya tidak berasal dari keturunan manapun lalu masuk di Marena sebab dia adalah to tiba’tu tallang, to di salassa jawi-jawi artinya tulisan tersurat tentang dia adalah pelindung sejarahnya, tang dipuangngi tang di ada’I puang kalena ada’ kalena messun dialukna tang dipatamai aluk aluk , artinya tidak berayah dan tidak beribu sehingga tidak merupakan keturunan dari bangsawan manapun.

Messun di alukkuna tang dipatamai aluk artinya ketika keluar bisa menerima adat atau budaya luar tapi jika didalam tidak bisa menerima adat budaya lain.

Dalam gelaran tang di puanngi tang di ada’i hingga sekarang yang diyakini orang Marena seorang Puang (gelar bangsawan Tanah Duri), sehingga jika masuk Marena tetap memakai gelar itu maka tidak akan berumur panjang jadi jika ada seorang puang masuk Marena orang Marena cuma menyebutnya dengan kata “anak”.

Jika berkomunikasi langsung dengan puang cukup dengan menyebutnya “hey anakku” meskipun puang itu sudah tua namun tetap harus menyebut anak

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pembagian Ruang menurut Aturan Adat di bagi dalam 2 bagian
1. Tanah Darat
2. Tanah Berair
a. Pemukiman
b. Perkebunan
c. Pertanian

Tanah darat merupakan gunung batu yang tidak bisa dikelola, sementara tanah berair yang di bagi berdasarkan kebutuhan, antara lain, pemukiman, perkebunan dan pertanian.
 
Penguasaan lahan terbagi dalam 2 bagian :
1. Tanah Pemangku
2. Tanah Warisan
Tanah pemangku merupakan tanah yang dikelola oleh pemangku adat selama dia menjabat pemangku adat, dan tanah warisan di kelola oleh satu rumpun keluarga dan pengelolaannya dilakukan secara bergilir sesuai kesepakatan keluarga.
 

Kelembagaan Adat

Nama Batu Ariri
Struktur 1. Bola Lando 2. Dea Masari 3. Bola Rampunan 4. Dea Bulu Sia Nenek yang terdiri dari empat pemangku namun tidak ada hirarki struktur dengan pucuk pimpinan karena dari keempat pemangku tersebut dalam istilah Sia Nenek tidak ada yang dianggap kakak dan ataupun adik. Wasiat kata adat dari Batu Ariri (satuan wilayah adat Marena) menyebut empet periwa lolo tallu sibali lan batu ariri sisulle sulle adi sisulle sulle kaka sisulle sulle sipawalu walu maksudnya adalah tidak ada kakak dan tidak ada adik, sama sama pemangku adat yang harus saling bantu membantu Dalam menjalankan aktifitasnya ke 4 Batu Ariri di bantu oleh 4 petugas (pelaksana tehnis) • sorong • sando • Guru/imam • To Mentaun
• Sorong : Penanggungjawab penuh pada setiap setiap ritual adat
• Sando (Dukun); berkaitan dengan pengobatan
• Guru/imam : Pemimpin doa ketika ritual adat, dan sebagai imam di masjid
• To mentaung ; menentukan waktu melaksanakan ritual dan aktifitas pertanian (Ahli perbintangan)

Walaupun mereka punya tugas masing-masing, namun semua wajib hadir dalam setiap ritual adat.
 
Si Ottonang Upa (duduk berkumpul dan lutut bersentuhan antara satu dan lainnya) Musyawarah 

Hukum Adat

Masyarakat adat marena sangat menjaga Tanahnya dalam bahasa orang marena “Aluk Tanah”, menurut filosofinya, karena manusia berasal dari tanah dan segala kehidupan berasal dari tanah, makanya tanah harus di jaga baik-baik.
Dalam keyakinan orang Marena ada tiga lolo, (1) Lolo tau yang berkaitan dengan Manusia, Lolo Lise berkaitan dengan Makanan atau yang di makan dan Lolo Barangngapa berkaitan Hewan, kalau di gabungkan maka menjadi “LOLO”

Beberapa ritual Masyarakat adat Marena :

Yang menyangkut lolo barangngapa dan lolo lise’
1. Mangkaro Kalo
Ketika musim hujan adalah saat musim tanam benih pemangku adat Sia Nene sebagai periwa lolo tallu (pelaksana tugas lolo tallu) kemudian mengumumkan dengan berujar “wei kamu to anak ampoku la maleki mangkaro kalo masawa” (hei kalian anak cucuku besok kita akan menggali parit). Penggalian parit dilakukan di tempat dimana mata air yang menjadi sumber air untuk mengairi persawahan ataupun untuk penyiraman tanaman di ladang, jika pemangku adat mebahasakan “la mellaomiki lako mellombokna” itu artinya masyarakat akan turun ke sawah akan tetapijika menyebut “la endekki jio membuntunna” artinya orang akan ke ladang. Dalam kegiatan mangkara kalo Masyarakat Adat Marena memotong ayam dan membuat makanan yang dibungkus dengan daun, daun yang dipakai biasanya daun pisang dan daun kelapa. Dalam bahasa Duri disebut la’pa’. la’pa’ dibuat dari bahan beras ataupun jewauk. La’pa’ dibuat dari bahan beras ataupun jewauk karena pahaman Masyarakat Adat Marena bahwa kedua tumbuhan tersebut tetap membutuhkan air yang biasa diujuarkan oleh orang Marena ketika membuat la’pa’ yaitu “jiong mellombkna nangla parallui wai,jao membuntunna nagla parallui wai”.
2. Mangla’pa Garonggong
Mangla’pa Garonggong dilakukan sekitar tiga atau empat hari setelah mangkaro kalo. Jika mangkaro kalo dilakukan pada sumber mata air maka mangla’pa garonggong dilakukan pada tempat berakhirnya air dialirakan. Pada kegiatan ini pemangku adat juga yang mengumumkannya kepada masyarakat. Setelah kegiatan mangla’pa garonggong dilanjutkan dengan membajak sawah, yang pertama dibajak harus sawah dari keempat pemangku barulah kemudian beralih kepada yang lain, setelah semua sawah selesai dibajak maka pemangku adat yakni sorong, ada’ dan to mentaun untuk menentukan kapan waktu tepat untuk menanam. Dalam perencanaan menanam terlebih dahulu diawali dengan mangramme (merendam benih dalam air) sesuai petunjuk to mentaun yang menetukan waktu sesuai dengan pengetahuannya tentang cuaca. Jika to mentaun menetapkan misalnya dihari senin merendam benih maka diumumkanlah kepada semua masyarakat bahwa hari senin adalah waktu yang bagus merendam benih dan perendamannya tiga kali.
3. Mangpallin
Mangpallin dilakukan ketika padi sudah mulai tumbuh, kegiatan ini dilakukan dengan maksud untuk memohon kapada Allah SWT agar tanaman tidak terserang oleh hama. Tidak ada pembuatan la’pa taupun potong ayam cuma tepung padi yang dicampur dengan santan dan telur yang dimakan
4. Mangrundun Banne
Setelah mangpallin selanjutkan diadakan Mangrundun Banne. Semua petani turun di acara ini. Manrundun banne dilakukan di kepala sawah atau permulaan sawah yang pertama sekali dialiri air. Diacara ini disertai dengan acara mangkarerang, la’pa’ juga dibuat serta ada pemotongan ayam. Mangkarerang adalah menjadikan daun aren sebagai tempat seluruh makanan yang dibuat di acara mangrunddun banned an dari daun aren pun la’pa’ dibungkus.
Yang Menyangkut Lolo Tau
Dalam hal lolo tau dikenal adanya acara mangnganta’/mantanan bubun. Ketika pemangku adat menyatakan akan diadakan acara mangngantak maka seluruh masyarakat dalam wilayah Masyarakat Adat Marena turut dalam acara tersebut, acara ini dimaksudkan untuk memohon kepada Tuhan untuk menyembuhkan penyakit ataupun membuang kesialan pada diri.

Di dalam pelaksanaan acara ini orang dimandikan dari air sumur yang ditampung dalam gentongan yang dibuat lalu dipasang pemali (menerapkan aturan yang bersifat larangan). Yang pertama dilarang membakar, menebang kayu, bersama suami dan istri selama tiga malam itu. Setelah tiga hari lewat air Lolo tau dilakukan selama enam tahun dan ritualnya dua kali dalam setahun.

Pantangan dalam melakukan ritual adat tersebut, tidak boleh ada beras hitam, tidak boleh berpakaian hitam dan tidak boleh dilakukan kalau ada orang meninggal di kampung (wilayah adat Marena), dan acara ritual tersebut dilakukan sebelum jam 12 siang dalam bahasa orang Marena Allo Tuka (Matahari naik) dan Tidak boleh dilakukan kalau Allo Solo (matahari turun)

 
Contoh penerapan hukum ini dalam aturan adat Marena adalah ketika ada yang berzina dengan saudaranya ataupun mengawini saudaranya atau pawe-pawe aturan adat diterapkan yakni dibandang mamata’I (hukuman mati dengan tidak meneteskan darah bagi terdakwa) dengan cara dicekik.

Dalam hal pemali misalnya mencuri ayam penerapan hukumnya masih bisa dibicarakan lalu dijatuhi hukuman tapi tidak dengan hukuman mati. Jika mencuri ayam misalnya maka disuruh membawa kurungan ayam kelililing kampung sambil berteriak “aku mencuri ayam 
Sengketa tanah warisan antara 2 keluarga, masing-masing keluarga mengklaim, oleh pemangku adat dalam menyelesaikan sengketa yang benar di putuskan benar.
Hukum adat yang berkaitan dengan criminal/pidana tidak pernah lagi diberlakukan, karena sudah menggunakan Hukum negara
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan jagung, ubi jalar, wortel, kentang, kacang merah, kecang tanah, koll, bawang prei, daun sop, sawi, cabe, pohon pisang
Sumber Kesehatan & Kecantikan Paria Bawang merah, Kunyit : obat cacar, Air Pare di minum lalu di campur dengan kunyit lalu di mandi Jahe, obat rematik, di tumbuk atau di parut lalu di oleskan pada bagian yang sakit Papaya, Obat Cacing, Getah papaya di campur gula merah lalu di minum
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu (suren, belalang, bitti, jati, kelapa) Bambu Pattung, kajao,
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Bawang, jahe, lengkuas, cabe, kunyit, serai Merica
Sumber Pendapatan Ekonomi Padi, bawang merah, kol, kentang, wortel, buncis, tomat

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kab. Enrekang Nomor 1 Tahun 2016 Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat Masenrempulu Enrekang Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen