Wilayah Adat

Wanua Katu To Behoa

 Teregistrasi

Nama Komunitas To Behoa
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota POSO
Kecamatan Lore Tengah
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Wanua Katu To Behoa
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Ngata Toro
Batas Selatan Behoa Ngamba
Batas Timur Wanua Rompo
Batas Utara Ngata Lindu

Kependudukan

Jumlah KK 122
Jumlah Laki-laki 247
Jumlah Perempuan 264
Mata Pencaharian utama Bertani (sawa, kebun)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Wanua Katu pada mulanya merupakan Wilayah Behoa yang masih berbentuk danau dan pegunungan hutan belantara. Awalnya Wilayah Behoa hanya dihuni 1 komunitas yang tinggal di perkampungan Rano./ Wanua Rano dijadikan sebagai perkampungan lama Behoa. Wanua Rano pertama kali dibangun oleh sepasang suami istri dan dibantu oleh kedua pengikutnya. Suaminya bernama Kapita dan Istri bernama Katuno berasal dari Sigi Biromaru serta kedua pengikutnya adalah orang yang ada dui wilayah Behoa. Mereka bersama-sama membangun perkampungan Rano sebgaai pemukiman nuntuk membentuk kelompok keluarga. Seiring berjalannya waktu, masyarakat di Wanua Rano semakin banyak dan telah mengenal cara hidup berkelompok. Pada tahun 1500 telah dilakukan ekspedisi oleh Albert Kruyit yaitu pada tahun 1800 atau abad ke-20. Penjelajah tersbeut hanya mendapat kedua orang suami istri sedang membelah kayu. Penjelajah tersbeut mengambil sepenggal kayu dan bertanya kepada suami istri mengenai aktivitas membelah kayu dalam bahasan Behoa. Suami istri menjawan bahwa belahan kayu tersbeut adalah Behoa. Akhirnya penjelajah menyimpulkan tempat itu bernama Behoa dan nama itu dikenal hingga saat ini. Bukti lebih jelas keberadaan Behoa yaitu adanya kuburan lama suami istri yang tidak dikebumikan, keberadaanya masih utuh di atas tanah tanpa mengalami perubahan. Setelah wafatnya suam istri itui, masyarakat Rano mulai berpindah untuk membentuk perkampungan baru. Pada saat itu sepasang suami itri tersebut sudah dipandang oleh masyarakat Rano sebagai pemimpin atau orang yang sangat dihormati. Kematian mereka membuat bebrapa keluarga dari Wanua Rano memilih membangun pemukiman baru. Pada waktu yang bersamaan, Belanda mulai masuk dan membentuk satu distrik pemerintahan dengan membangun beberapa pemukiman di wilayah Behoa. Kedatangan BElanda di abawah pimpinan Albert Kruyit bertujuan untuk menyebarkan agama Kristen Protestan. Beberapa kampung dikoordinir oleh gerombolan Belanda. Perpecahan pertama dari Wanua Rano yaitu Wanua Longkea, lalu masyarakat Wanua Rano menyebar ke Wanua Katu dan Podondia yaitu Wanua Hanggira dan Bariri. Sebagian msayarakat Katu perpindah ke Wanua Doda.
Penduduk KAtu adalah bagian dari To Behoa. To Behoa bermukim di kawasan Ngamba Behoa. Bukti peradaban dan kehidupan lama orang Behoa yaitu perkampungan rano yang merupakan awal pemukiman orang komunitas BEhoa. Salah satu peninggalan purba yang menjelaskan kedudukan asli masyarakat Behoa pada 2000 sebelum masehi adalah situs megalith yang ada di dataran lembah dan Ngamba Behoa. Desa Katu adalah perpecahan dari Wanua Rano. Awalnya seluruh penduduk asli Behoa hanya memiliki 1 perkampungan dan kemudian berpindah membentangi seluruh dataran Behoa. Desa Katu merupakan 1 komunitas dari 8 komunitas yang ada di Behoa. Secara administratif berdomisili di Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Dalam sejarahnya sebelum tahun 1920 orang Katu telah lama membuka hinoe (ladang) di lokasi Mapohi dan Parabu hingga tahun 1918. Awalnya Wanua Katu dirintis oleh beberapa pemuka masyarakat dari Bariri dan Hanggira di Behoa Ngamba. Orang-orang tersebut adalah Marota (Umana Ntoapa), Togoe (Umana Tahoe), Mpanda (Umana Geo), Tokena (Umana Toreo), Tobuse (Umana Duri), beserta 7 orang pengikut yang telah membuka kbun kopi di Toporarena, yaitu pemukiman sekarang di Katu.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kinta: lahan pemukiman warga
Wanua: perkampungan
Bonde: lahan persawahan masyarakat
Hinoe: Lahan perekebunan masyarakat
Wana: hutan rimba yang tidak pernah terjamah
Kakau: hutan
Bulu: gunung
Pada: padang rumput
Lambara: tempat perkumpulan hewan (kerbau, sapi, anoa)
Gimpu: kandang hewan
Bangkeluho: perkampungan lama
Halu: aliran mata air sungai
Kana: Aliran sungai
 
Musyawarah diselenggarakan oleh pemerintah desa dan dihadiri oleh lembaga dat, komisi pengawasan Wanua Katu, dan tokoh masyarakat serta pemilik lahan.
- Pembebasan lahan untuk perkampungan baru berdasarkan kesepakatan. Adapun lokasi perkampungan baru yang diusulkan adalah salubiro, tikala, tokepipolo, dan tokeiso.
- pembagian lahan untuk kintal perumahan kk
- pembagian rumah penduduk
- pemerintah desa berhak mengambil alih lahan yang tidak dikelola
- penduduk tidak diperbolehkan mengalihfungsikan lahan
 

Kelembagaan Adat

Nama Hondo Ada (Pemangku adat wilayah/ desa) Galara (Pemediasi/ penghubung tingkat wilayah)
Struktur Ketua, sekretaris, nemdahara, anggota. Tu'una/ Katua Ada: Ketua LAD Topoanti laluta (sekretaris LAD)
1. Hondo ada: berkedudukan sebagai pemangku adat yang berfungsi memutuisakan dan menetapkan sanksi pada gelar perkara berdasarkan hukum adat.
2. Galara: berfungsi sebagai penutur jalannya peradilan. Galara adalah lembaga yudikatif yang memberikan input dan saran dan pertimbangan segala keputusan agar tercapai mufakat. Galara juga bertanggung jawab terhadap jalannya perkara serta bertugas menjadi penghubung/ pemediasi apabila terjadi konflik di tingkat wilayah.
3. Topoanti Laluta/ Tomompahawedarita: pemediasi perkara di tingkat desa dimana setiap pelaku perkara akan mengkomunikasikan kronologis masalahnya melalui interogasi yang dilakukan oleh lembaga adat yang ditugaskan untuk menggali informasi perkara. Informasi yang didapatkan akan disampaikanm pada saat gelar perkara.
4. Sekretaris: mendokumentasikan aturan adat.
5. Bendahara: mengelola anggaran sesuai hasil peradilan.
6. Anggota: membantu kegiatan dan tugas-tugas kelembagaan adat.
 
musyawarah adat 

Hukum Adat

Mapotoa: upacara untuk memulai pekerjaan
Mapokana: upacara panen yang dilakukan persatu keluarga
Mokatue'i: pesata menyelesaikan aktivitas bertani selama satu tahun yang dilakukan serentak
Mande Pare (acara pemanenan) yang pelaksanaannta dilakukan se kampung.
 
waya: aturan ini ditegakkan pada seseorang yang melakukan tindakan kriminal
Wawesi: sanksi adat untuk pengikat tangan seseorang yang melakukan tindakan kriminal agar tidak melakukannya lagi
Ada Tampo (adat tanah): apabila seseorang melakukan pelanggaran baik tindakan kriminal maupun persinahan, maka pelaku akan dikenai denda ada tampo. Denda tersebut dimaksudkan untuk mengembalikan kesucian tanah.
Potinuwu'i: pengembalian kerugian bagi seorang yang dikriminalisasi.
 
Giwu: Bila seseorangh terbukti melakukan persinahan, pencurian, kriminalisasi mendapatkan sanksi denda sesuai dengan perbuatannya. Pelaku tersebut akan membayar sesuai aturan adat yang berlaku. Mekanisme pembayaran melalui giwu (denda) yang telah disesuaikan dengan pelanggaran pelaku tersebut dan akan dibayar dengan kerbau atau babi 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan pertanian: Sawa dan kebun (padi, jagung, ubi kayu, ,merica) Tumbuhan hutan: luku, owu, banga, tangkidi tumbuhan padang: huhu japi, tambata baru: air enau (minuman khas)
Sumber Kesehatan & Kecantikan Bada (kunyit), lolo gambu (pucuk jambu), talipai, pudisese, rumpu karu, tangkada, hiha, wawaro, rumput tomate, bimbingkalo
Papan dan Bahan Infrastruktur Palili, uru (cempaka), kalise, taliti, beta'u ( bintangor), apuni (batang paku raksasa), kapa, tala ( bambu), uwe (rotan), tawiri ( kayu besi), dopi, pepolo, belante kuhe
Sumber Sandang jenis pakaian: ranta (pakaian dari kulit kayu) koli bea, koli kate
Sumber Rempah-rempah & Bumbu bada: kunyit kula: jahe pangka bau: daun kemangi ponda: daun pandan arogo hare: daun sere sederei: seledri pia: bawang palola: tomat marisa: rica
Sumber Pendapatan Ekonomi Bertani dan berternak