Wilayah Adat

Gelarang Colol

 Teregistrasi

Nama Komunitas Colol
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten/Kota MANGGARAI TIMUR
Kecamatan Poco Ranaka Timur
Desa Ulu Wae, Rende Nao, Wejang Mali, dan Colol
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Gelarang Colol
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Berbatasan dengan Wilayah Adat Lamba, Desa Golo Nderu, Kec. Poco Ranaka yaitu: Golo Tenda Gagus, Sorok (Rawa-rawa) Wangka, Sano (Danau Dangkal) Goro, & Wae Nggerang. Berbatasan dengan Wilayah Adat Rewung, Desa Tango Molas, yaitu: Tango Lerong & Golo Tango Molas.
Batas Selatan Berbatasan dengan Wilayah Adat Desa Waling, Kec. Borong, yaitu: Golo (Bukit/Gunung) Poco Nembu, Golo Lobo Wa’I, Golo Wore, Golo Lalong, Golo Sa’I, Golo Tungga Lewang, Golo Mese, dan Dangka (Cabang Jalan) Mangkang.
Batas Timur Berbatasan dengan Wilayah Adat Ngkiong yaitu: Wae (Air/Sungai) Dangkung, Wae Lui, Bea/Rana (Bekas Danau) Galang, Gola Kotang, Golo Nenes, & Tango (Bukit Tempat Memandang) Colol.
Batas Utara Berbatasan dengan Wilayah Adat Racang yaitu: Cuncang Dange, Golo Rakas, & Cunga Wae Rae. Berbatasan dengan Wilayah Adat Wuas yaitu: Watu (Batu) Tokol, Wejang (Sumber Mata Air) Wuas, Watu tenda Gereg, & Liang (Goa) Lor .

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama Petani/Peladang/Pekebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat Adat Colol saat ini merupakan orang-orang dari 14 panga (suku/klen) yang dalam perkembangannya hidup bersama di sebelah utara Gunung Golo Lalong dan Gunung Poco Nembu. Dalam perkembangannya, mereka bermukim berdampingan dan hidup dengan berburu dan bercocoktanam padi dan tanaman lain dengan cara gilir-balik di dalam lingko/ladang melalui sistem tata-kelola khas berbentuk jaring laba-laba. Keempatbelas panga itu adalah Ongga, Colol, Maro, Paleng Cibal, Raci, Pupung, Nggari, Ngkiong, Waling, Urung, Cabo, Ngaung Wae, Taga, dan Weli. Keempatbelas panga itu memiliki asal-usul yang beragam, di antara panga yang dipercaya berasal dari luar pulau Flores adalah Panga Paleng Cibal dari Minangkabau, Sumatera Barat serta dua Panga yang dipercaya berasal dari Sulawesi Selatan yaitu Panga Colol dari Gowa dan Panga Maro dari Maros. Adapun Panga Ongga dipercaya sebagai orang-orang pertama yang tinggal di dalam Gua/Liang Karung di Roga Rungkus sebelah utara Gunung Golo Lalong, Panga Waling datang dari sebelah selatan dari Gunung Golo Lalong, Panga Ngkiong dan Panga Urung berasal dari sebelah utara dari Gunung Poco Nembu, sedangkan panga-panga yang lain datang dari Tanah Manggarai lainnya. Pemilihan “Colol” sebagai nama Masyarakat Adat yang berlokasi di Utara Gunung Golo Lalong berhubungan dengan dinamika perkembangan panga colol dan 13 panga lainnya dengan masyarakat adat maupun kerajaan lain di sekitarnya.
Dituturkan bahwa sejarah awal mula Panga Colol yang berasal dari wilayah Gowa dibawa oleh leluhur mereka bernama Ranggarok pada sekitar tahun 1600-an. Ranggarok menetap di sebelah barat Gendang Racang yang saat itu diberi nama Golo Meka (Tamu). Ranggarok kemudian menikah dengan putri Racang bernama Pote Dondeng. Ranggarok dan Pote Dondeng kemudian memiliki anak bernama Mondo dan tinggal di Golo Mondo (Lingko Lowo saat ini). Mondo memiliki 3 keturunan yaitu: Tepa Ameneras, Tambur Amelaju, dan Dai Amebangkis. Dai Amebangkis kemudian juga melahirkan 3 anak yaitu: Timur yang menikah dengan Banir dari Panga Paleng Cibal, Iye yang menikah dengan Jangu (orang Panga Maro pertama yang tinggal di Beo Pumpung), dan Mumbung Amelebe putra satu-satunya dari Dai Amebangkis. Pada saat itu, pemukiman Beo Mondo sudah berpindah ke sebelah selatan menjadi beo baru dan dinamakan Pumpung (Lingko Pumpung saat ini) dibuktikan dengan adanya pekuburan leluhur Boa Ala di sebelah selatannya.
Beo Pumpung masa itu berlokasi tidak jauh dengan Wilayah Gelarang-satuan wilayah di atas Beo-Racang yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Bima. Hal itu menyebabkan adanya interaksi yang dinamis antara orang-orang Beo Pumpung dan orang-orang dari Gelarang Racang. Sampai pada suatu saat, Kerajaan Bima meminta utusan pada Gelarang Racang untuk membantu perang melawan Kerajaan Langa di Bajawa. Saat itu Gelarang Racang meminta seorang ksatria panga colol bernama Mumbung Amelebe dari Beo Pumpung untuk menjadi utusan dari Gelarang Racang. Gayung bersambut, berangkatlah Mumbung Amelebe menjadi perwakilan Gelarang Racang dengan membawa Jimat Acuhindos milik Racang, berperang bersama Pasukan Kerajaan Bima. Pada perang itu Pasukan Kerajaan Bima dikalahkan Pasukan Kerajaan Langa. Namun, walau mengalami kekalahan, Mumbung Amelebe dapat kembali ke Beo-nya dengan selamat. Nama Mumbung Amelebe saat itu menjadi lebih terkenal pasca selamat dari perang.
Kerajaan Bima di kemudian hari ingin memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke wilayah di sekitar Beo Pumpung tempat Mumbung Amelebe tinggal. Mendengar itu, Mumbung Amelebe kemudian mendirikan benteng di sebelah selatan beo-nya dan dinamakan Benteng Pipit untuk menahan gempuran Pasukan Kerajaan Bima. Ia dibantu oleh Wakecera Tunggul Amenus dari Beo Ncegak saat menghadapi pasukan Kerajaan Bima dan berhasil mempertahankan wilayahnya. Saat itu, pasukan Kerajaan Bima menderita kekalahan dengan jumlah korban yang tidak sedikit dan dimakamkan di sebuah tempat yang dinamakan Boa Ala (dekat Goa Maria Colol saat ini). Sisa pasukan Kerajaan Bima dikejar hingga terdesak di Golo Leda. Panglima Perang Bima saat itu kemudian memberikan sumpah/wada kepada Mumbung Amelebe dan pasukannya yang berbunyi:
“Iyoo…. ngong ite kraeng, wangka leso ho’o nang wa empo anak dami, toe weda kole lami tanah Pumpung. Eme brani kigm naigm ami ko keturunan dami, kude te pura mukang wajo kampong, dara dami cama wae wa’a, ulu dami cama watu rutup.”
“Saat ini kami bersumpah kepada tuan-tuan, ketika kami atau keturunan kami datang lagi ke Pumpung untuk berperang, maka darah kami mengalir bagaikan air dan kepala kami bertumpuk bagaikan tumpukan batu.”
Peristiwa deklarasi sumpah/wada itu diabadikan dengan dibuatnya Mesbah/tumpukan batu di Golo Leda (Beo Leda di Wilayah Adat Racang saat ini).
Pasca perang itu, banyak darah mengalir sampai ke wilayah Beo Pumpung sehingga membuat orang-orang memutuskan untuk pindah ke sebelah utara. Pemukiman baru di utara Beo Pumpung itulah yang kemudian berkembang menjadi “Gendang Colol” yang dipimpin oleh Tua Golo (Ketua Adat) dan Tua Teno (Pemangku Adat Urusan Tanah dan Ritual) dari Panga Colol. Kata “Colol” sendiri dipercaya sebagai kata suci yang diberikan tuhan dan dituturkan pertama oleh Mumbung Amelebe. Beberapa identitas budaya yang terbentuk sejak itu antara lain 1. Gagasan “Gendang One Lingko Peang” sebagai suatu filosofi atas kesatuan kampung dan lahan garapan, 2. Gagasan sistem ruang hidup dalam unsur utama yang 5 (lima): ”Mbaru Bate Kaeng”, “Natas Bate Labar”, “Compang Bate Takung/Dari”, “Wae Bate Teku”, & ”Uma Bate Duat”, 3. Konsep pembagian “Lingko” (ladang) yang berbentuk jaring laba-laba berjumlah sesuai dengan jumlah Panga yang ada di Gendang itu dengan tata kelola yang arif, 4. Ritual Adat Tahunan “Hang Woja” atau “Penti” sebagai bentuk syukur atas panen dan pengharapan untuk panen berikutnya, 5. Seperangkat aturan adat terkait segala sendi kehidupan yang mengikat, dan lain sebagainya. Masyarakat Adat Colol juga memiliki tempat bermitos bernama Nenteng Nganggo di Lingko Nganggo, Gendang Biting yang dipercaya memuat penanda kematian dengan terlihatnya dari jauh kain kafan berwarna (putih, hitam, maupun merah). Adapula kisah tentang kemunculan Watu Tokol di Gendang Welu dari sebuah kampung purbakala bernama Bealeda. Konon warga kampung itu membutuhkan api pada saat hujan lebat sehingga sulit untuk mendatangi rumah yang memiliki api. Terpaksa warga rumah yang apinya masih hidup, mengikatkan batangan kayu berapi di ekor anjing. Anjing yang merasa kepanasan itu akhirnya panik dan menari-nari di halaman rumah. Roh penjaga kampung marah dan memberikan hukuman dengan menenggelamkan kampung itu sehingga memakan banyak korban. Adapun warga yang selamat berlarian ke luar kampung menuju bukit. Sesampainya di atas bukit, warga menoleh ke arah kampung mereka yang tenggelam. Tiba-tiba mereka berubah menjadi batu yang dikenal dengan Watu Tokol yang memuat gambaran-gambaran warga saat itu.
Pada sekitar tahun 1700an, keturunan Tepa Ameneras berpindah dari Gendang Colol membentuk pemukiman baru di sebelah barat dan terbentuklah Gendang Bele. Pemukiman di Gendang Bele itu kemudian pindah ke arah selatan dan menjadi Gendang Welu sampai saat ini. Penamaan “Welu” itu dikisahkan karena adanya Pohon Kemiri (Pohon Welu) yang tumbuh di sana. Setelah Gendang Biting mekar, oleh karena perkembangan jumlah penduduk di Gendang Colol, Tua Golo saat itu menugaskan Suru untuk menjadi Tua Golo di pemukiman baru yang dinamakan Gendang Biting. Adapun Tua Teno dipilih dari Panga Pupung. Pasca Gendang Biting mekar, tidak lama kemudian dibentuk lagi Gendang Tangkul dengan Tua Golo pertama bernama Carong dari Panga Colol. Namun, karena Corong lebih sering bermukim di lingkonya, maka ditugaskanlah Canggung dari Panga Maro sebagai pelaksana tugas Tua Golo di Gendang Tangkul. Adapun Tua Tenonya dipilih dari Panga Taga yang berasalusul dari daerah Manggarai. Saat ini Tua Golo Tangkul masih tetap berasal dari Panga Colol. Keempat gendang itulah yang merupakan perkembangan wilayah dalam sebuah Gelarang Colol yang dikepalai dengan seorang Kepala Gelarang dengan Wakil di setiap Gendangnya.
Pada zaman kolonial, dituturkan bahwa terjadi interaksi antara Masyarakat Adat Colol dengan Bangsa Asing. Pada tahun 1927 Pater Yansen, SVD dari Jerman membangun gereja pertama di Lengko Ajang (di Kel. Golo Wangkung, Kec. Sambi Rampas saat ini) dan membawa agama Katolik yang diterima Masyarakat Adat Colol. Ajaran Katolik berkembang berdampingan dengan nilai-nilai dan tradisi warisan leluhur. Adapun Bangsa Belanda membawa tanaman baru seperti kopi untuk ditanam masyarakat. Pada sekitar tahun 1920an Belanda mencanangkan wilayah Colol sebagai pusat pengembangan kopi karena kecocokan karakteristik alamnya. Sejak saat itu, budidaya kopi itu mengubah jenis tanaman mayoritas di wilayah Colol yang sebelumnya didominasi padi, jagung, ubi jalar, kentang, singkong, keladi, dan lain-lain. Pada tahun 1937, Belanda mengadakan sayembara petani kopi terbaik di Manggarai yang dimenangkan oleh Bernadus Ojong dari Colol. Ia dihadiahi sebilah parang dan bendera Belanda dengan gambar daun kopi arabika dan tulisan “Pertandingan Keboen Kopi Manggarai” di tengahnya. Pada tahun yang sama Kolonial Belanda secara sepihak mengambilalih 29 lingko di Colol dan menetapkannya sebagai kawasan hutan dengan memasang PAL tanda batas berdasarkan Surat Penetapan Kepala Daerah Flores tentang Kelompok Hutan Tutupan Ruteng 118 No. 10, 2 Juni 1936 yang disahkan oleh Residen Timor, Onder Hori Lobeyden melalui surat No.64/lk, 24 Juni 1936. Saat itu Gendang Tangkul juga masuk ke Kawasan RTK 118. Masyarakat Adat Colol, Warga Gendang Tangkul menolak kampungnya menjadikan kawasan hutan. Belanda kemudian menetapkan enclave (PAL OKA). Pengambilalihan 29 lingko oleh Belanda itu menjadi awal dari masa suram Masyarakat Adat Colol di kemudian hari.
Pasca kemerdekaan Indonesia, berkembanglah konsep desa gaya baru pasca UU Desa terbit. Pada tahun 1969, wilayah Gelarang Colol masuk ke dalam Desa Ulu Wae yang mencakup 4 gendang di Colol dan 2 gendang lain yaitu Gendang Racang dan Gendang Wuas. Desa Ulu Wae kemudian mekar menjadi Desa Rende Nau pada tahun 1996. Pada akhir 2010, Desa Rende Nau mekar menjadi Desa Wejang Mali. Di tahun yang sama Desa Ulu Wae mekar menjadi Desa Colol. Saat ini 4 desa itu memiliki wilayah yang sesuai dengan 4 gendang yaitu, Gendang Induk Colol (dan Gendang Racang) secara administratif masuk ke Desa Colol, Gendang Welu (Desa Wejang Mali), Gendang Biting (Desa Ulu Wae), dan Gendang Tangkul (Desa Rende Nau). Dalam konteks perkembangan desa itu, tatanan kehidupan masyarakat Colol berdasarkan adat masih terus berjalan dan mapan.
Pada tahun 1960an terjadi 2 kali penangkapan dengan total jumlah 13 orang pemilik lingko-yang dulunya diklaim oleh Belanda-oleh Pemkab Manggarai. Sepuluh pemilik lingko pertama dijatuhi hukuman 1 bulan penjara dan 3 lainnya dengan putusan denda Rp. 500. Pada kisaran tahun 1970 terjadi bencana longsor di Gendang Tangkul dan memakan korban 12 orang meninggal. Pada kisaran tahun 1970an itu juga Pemkab Manggarai menetapkan “Pungutan Bagi Hasil” atas 29 lingko yang diambilalih Belanda sebesar 60% milik pemerintah dan 40% milik warga. Saat itu, tokoh muda bernama Nobertus Jerabu dari Colol mengajukan keberatan ke Panglima Komando Operasi Tertib (PANGKOBKABTIB) di Jakarta yang kemudian ditindaklanjuti dengan mengirimkan tim investigasi. Hingga hasil investigasi berdasar bukti itu membuat Pemkab Manggarai menghentikan pungutan bagi hasil pada tahun 1977. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 8 November 1980, Bupati Manggarai (Frans Dula Burhan, SH), dengan para camat, dan para kepala desa di sekitar kawasan hutan tutupan menandatangani Berita Acara Pengukuhan Hutan Tutupan versi Pemerintah Kolonial Belanda tanpa sepengetahuan Masyarakat Adat Colol.
Pada periode tahun 2000—2004 dapat dikatakan merupakan puncak masa suram bagi Masyarakat Adat Colol. Dimulai dari penangkapan 6 orang Colol dari Gendang Tangkul dan dijatuhi hukuman 1 tahun 8 bulan penjara tanpa alasan yang jelas. Pada 28 Agustus 2003, Bupati Manggarai mengeluarkan Surat Keputusan No: Pb.188.45/22/VIII/2003, tentang Pembentukan Tim Pengamanan Hutan Terpadu Tingkat Kabupaten (TPHTK) yang kemudian dilanjutkan secara operasional dengan mengeluarkan Surat Tugas No. DK.522.11/973/IX/2003 tertanggal 3 Oktober 2003 tentang Perintah kepada TPHTK untuk melaksanakan Operasi Terpadu Penertiban dan Pengamanan Kawasan Hutan Kabupaten Manggarai sejak 6 Oktober 2003—hingga selesai. Pada tanggal 14—17 Oktober 2003 TPHTK melakukan pembabatan kopi dan semua tanaman pangan seperti pisang, keladi, dan padi milik Warga Gendang Tangkul. Pembabatan itu berlanjut ke tiga Gendang lainnya pada tanggal 21 Oktober 2003, bahkan TPHTK juga mendirikan basecamp di lingko-lingko milik Masyarakat Adat Colol. Sembari tanaman pangan dan komoditas dibabat, Masyarakat Adat Colol melakukan proses-proses pencarian keadilan ke berbagai pihak seperti Pemerintah Kabupaten Manggarai dan DPRD yang menghasilkan keputusan penghentian sementara operasi. Tanggal 3 Desember 2003 10 orang Masyarakat Adat Colol yang diwakili para Penasehat Hukum (Advokat) menggugat 2 keputusan Bupati tentang Operasi Pengamanan TPHTK ke PTUN Kupang.
Pada tanggal 4 Maret 2004, Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) melakukan patroli ke lingko-lingko yang “telah dioperasi” oleh Tim TPHTK dan melarang pemilik lingko beraktifitas di kebunnya. Larangan yang tidak diindahkan itu kemudian dilaporkan Tim BKSDA ke Bupati Manggarai yang ditindaklanjuti dengan mengadakan Rapat MUSPIDA yang dihadiri oleh Kepala BKSDA, Kepala Dishut, Satpol PP, dan Camat Poco Ranaka. Pada tanggal 9 Maret 2004, Bupati Manggarai yang bernama Antoni Bagul Dagur itu beserta rombongan meninjau lokasi Rencana Tanah Kehutanan (RTK) 118 Ruteng dan menangkap 5 orang Gendang Tangkul dan 2 orang Desa Tango Molas. Kejadian hari itu membuat Masyarakat Adat Colol prihatin dan keesokan harinya mereka mengunjungi saudara mereka di Polres Manggarai di Ruteng. Sekitar 120an orang Colol berangkat menuju Ruteng pada hari Rabu 10 Maret 2004 menggunakan beberapa mobil. Sesampainya, warga mengutus 2 orang untuk melakukan dialog. Namun, belum sempat dimulai dialog, polisi tiba-tiba menembak ke arah mobil orang-orang Colol dan menembus kaki kanan Siprianus Ranus. Tembakan polisi yang menimbulkan kepanikan luar biasa itu membuat orang-orang Colol berlarian mencari tempat berlindung. Namun, aparat polisi terus mengejar dan menembaki warga secara membabibuta sampai memakan korban 5 orang tewas di tempat, 1 orang tewas di rumah sakit, dan 28 orang korban luka. Para korban dan warga yang ada dalam peristiwa “Rabu Berdarah” itu mengalami trauma psikologis dan banyak pula yang cacat seumur hidup akibat luka yang diderita. Sudah bertambah lima dari 28 orang yang cacat oleh karena Rabu Berdarah itu meninggal hingga tahun 2017. Masyarakat Adat Colol kemudian mencari keadilan atas peristiwa berdarah itu kepada KOMNAS HAM sejak tanggal 17 Maret 2004.
Setelah 9 tahun berlalu, pada tahun 2012 tepatnya tanggal 16 Oktober, Kepala BKSDA NTT Ir. Wiratno bersama Staf Kabid KSDA Wilayah II Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng mengadakan pertemuan dengan Masyarakat Adat Colol di Pastoran Paroki St. Petrus Colol yang juga dihadiri pemerintah kecamatan dan lsm. Pertemuan yang mencoba membangun komunikasi kembali antara BKSDA NTT dan masyarakat Adat Colol dalam konteks mewujudkan upaya pelestarian dengan memperhatikan kepentingan masyarakat dan TWA Ruteng. Terjadi kesepakatan antara pemerintah dan masyarakat untuk mengakomodir tujuan bersama itu (lihat lampiran). Masyarakat Adat Colol kemudian mengadakan Lonto Leok (Sidang Adat) yang dihadiri wakil dari 3 pihak (Telu Siri) yaitu para tokoh adat, pemerintah, dan gereja yang diadakan di Gendang Colol pada tanggal 12 Desember 2012. Lonto Leok Telu Siri itu menghasilkan kesepakatan yang intisarinya yaitu: 1. Pengamanan kawasan hutan di TWA Ruteng yang menjamin pada konservasi lingkungan dan penghidupan masyarakat yang saling percaya, menghormati, dan menguntungkan, 2. Usulan penyelesaian sengketa atas tumpang tindih status lingko secara adat dan kawasan hutan Negara, dan 3. Pemetaan partisipatif oleh pihak dalam 3 pilar (lihat lampiran). Sepuluh butir isi dari “Kesepakatan Bersama Tiga Pilar” itu terasa seperti nafas segar bagi Masyarakat Adat Colol. Perjuangan lanjutan Masyarakat Adat Colol dalam proses legislasi berhasil memperoleh Peraturan Daerah No.1 tahun 2018 tentang Pengakuan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Manggarai Timur. Namun, perjuangan belumlah berakhir, kelegaan untuk menjamin kehidupan dan adat itu haruslah menjadi masa depan Masyarakat Adat Colol. Perjuangan yang ditempuh adalah untuk memperoleh pengakuan hukum berbentuk Peraturan Bupati yang mengatur keberadaan Masyarakat Hukum Adat Colol dan hak adat di empat Gendang yang memiliki Pong dan Lingko sebagai sebuah kesatuan dari gagasan luhur “Gendang One Lingko Peang”.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Orang-orang Colol membagi ruang dalam wilayah menjadi 4:
- Pong adalah kawasan hutan terlarang yang dilindungi secara adat dengan tutupan vegetasi pohon-pohon besar dan memiliki banyak sumber/mata Air.
- Puar merupakan kawasan hutan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat adat secara terbatas untuk kebutuhan papan dan rumahtangga dengan tutupan vegetasi berupa pohon kayu, pohon dengan madu hutan, tumbuhan pangan, dan obat-obatan.
- Uma adalah wilayah yang menjadi kebun aktif warga dengan tutupan vegetasi berupa tanaman komoditas seperti kopi dan tanaman pangan masyarakat.
- Beo adalah wilayah yang menjadi pemukiman warga.
 
Penguasaan dan pembagian hak atas tanah adat di Colol tidak berbeda dengan konsep penguasaan dan pembagian tanah di wilayah Manggarai pada umumnya. Gagasan berupa “Gendang One Lingko Peang” yang artinya “Kampung di dalam dan Ladang di luar” diatur oleh Tua Golo dan Tua Teno. Dalam hal ini uma-uma orang Colol itu dibagi/dikelola dalam konsep lingko, tobok, dan as.

Sistem pembagian Lingko Utama yang disebut Lingko Rame atau Lingko Randang berdasarkan pada bentuk bulat yang berpusat pada satu titik seperti “jaring laba-laba”. Adapun bagian-bagian itu sesuai dengan panga yang bermukim di masing-masing gendang dengan ukuran yang sama besar menggunakan ukuran jari telunjuk (Moso Toso) dari titik pusat lingko, kecuali yang menjadi hak bagi keturunan Tua Golo dan Tua Teno yang memiliki besaran ibu jari (Moso ende).

Selain itu terdapat pula Lingko di luar yang utama itu yang sering disebut dengan Saung Cue. Lahan-lahan dalam lingko itu dibagikan kepada Panga (klen) yang kemudian dibagi lagi kepada tiap-tiap Kilo (keluarga besar).

Adapun pembentukan lingko-lingko itu di masa lalu terikat kuat dengan pelapisan/stratifikasi ritual adat yang telah mapan. Selain itu, tiap-tiap lingko itu juga dikenakan Wono (upeti/pajak) dengan besaran/jenis ternak yang berbeda yang terkait dengan ritual yang telah ditetapkan sejak dulu. Hal itu diterangkan sebagai berikut:

1. Lingko Rame/Lingko Randang
Tanah Adat yang dibuka dengan ritual Adat dan ditandai dengan pemotongan korban seekor kerbau (disebut Lingko Rona) atau dengan seekor babi merah (disebut lingko Wina). Di antara salah satu tanah lingko ini ditetapkan sebagai ranah Ritual Pesat Syukur Tahunan dengan mengorbankan 1 (satu) ekor babi.

2. Lingko Saung Cue/Neol
Tanah Adat yang dibuka dengan ritual Adat dengan mengorbankan 1 ekor babi. Untuk memperoleh Lingko ini warga dapat memintanya kepada Tua Golo dan Tua Teno. Bagi warga yang memperoleh tanah Lingko Saung Cue diwajibkan melakukan ritual adat tahunan dengan mengorbankan satu ekor ayam.

Mekanisme untuk memperoleh atau membagi hak penguasaan/kepemilikan di lingko-lingko yaitu Lodok, pembagian tanah dengan bentuk segitiga oleh Tua Teno. Berpusat di tengah (Mangka) dan dibagi dari dalam ke luar menuju batas luar (Cicing Lingko) secara arif.

3. Tanah Tobok,
Tanah lain di luar 2 lingko di atas dengan bentuk pembagian tanah sisa pembagian dari lingko Lodok oleh beberapa warga di luar batas tanah adat (Cicing Lingko) dengan luasan yang relatif.

Adapun lingko-lingko di empat Gendang milik Masyarakat Adat Colol yaitu:

- Lingko di Gendang Colol: Lowo, Lendeng, Leong, Pawo, Kotang, Wae Lawar, Pumpung, Tahang, Purang, Ajang, Lagor, Mok, Coca, Rem, Labe, Ncegak, Maning, dan Sompa.
- Lingko di Gendang Biting: Papa, Kodot, Ngampur, Tokok, Mumbung, Cangkem, Nganggo, Laci, Ngkiek, Meler, Iye, Papang, Tajeng, Bone, dan Rana.
- Lingko di Gendang Welu: Nggero, Ninto, Namut, Rongkas, Longos, Labar, Toka, Rungkus, Tando, dan Welu.
- Lingko di Gendang Tangkul: Rana, Lijung, Rende Nao, Ratung, Marobuang Sale, Maroboang Awo, Lando, Carong, Bolak, Nekel, Tangkul, dan Tangolerong.
 

Kelembagaan Adat

Nama Tua Mukang Lalong Kampong/Adak
Struktur Tua Golo (Ketua Pemangku Adat) Tua Teno (Pemangku Adat Urusan Tanah Adat, Upeti Adat, dan Ritual Adat) Tua Panga (Ketua tiap klen/suku yang berasal dari keturunan nenek moyang/leluhur yang sama) Tua Kilo (Kepala tiap Keluarga Besar dari garis pertalian darah dari pihak Laki-laki/Ayah) Tua Golo dan Tua Teno di tiap-tiap Gendang ditentukan sejak awal oleh Panga Colol dan diwariskan secara turun-temurun kepada Panga terpilih. Periode jabatan Tua Golo dan Tua Teno adalah sampai yang besangkutan tidak mampu lagi mengemban peran itu ataupun karena sebab lain. Adapun Tua Golo dan Tua Teno di tiap-tiap Gendang adalah: Gendang Colol: Tua Golo dan Tua Teno dari Panga Colol. Gendang Welu: Tua Golo dan Tua Teno dari Panga Colol. Gendang Biting: Tua Golo dari Panga Colol dan Tua Teno dari Panga Pupung. Gendang Tangkul: Tua Golo dari Panga Colol dan Tua Teno dari Panga Taga. Adapun Tua Panga dipilih dalam Musyawarah tingkat Panga maupun penunjukan dari Tua Panga sebelumnya kepada anaknya. Periode jabatannya adalah sampai yang besangkutan tidak mampu lagi mengemban peran itu ataupun karena sebab lain. Sedangkan Tua Kilo adalah anak sulung laki-laki dari garis keturunan laki-laki yang memiliki kemampuan berbahasa adat. Periode jabatannya adalah sampai yang besangkutan tidak mampu lagi mengemban peran itu ataupun karena sebab lain.
Untuk penyelesaian permasalahan antar-gendang dan/atau pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kepentingan seluruh masyarakat/wilayah adat Colol, maka dikembalikan ke Tua Golo dan Tua Teno Gendang Colol.
Tua Golo
- Memimpin Masyarakat Adat dalam wilayah Gendang.
- Menjalankan roda pemerintahan adat di segala aspek kehidupan dalam hubungannya dengan internal antar-warga maupun eksternal dengan pihak lain.
- Bersama Tua Teno dan Tua Panga melakukan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan adat di tingkat Gendang.
- Bersama Tua Teno dan Tua Panga menyelesaikan permasalahan sosial maupun sengketa lahan.
Tua Teno
- Memimpin dan melaksanakan ritual adat.
- Menentukan pembagian lahan adat (di masa lalu)
- Mengumpulkan Wono (upeti) dari lahan adat
- Bersama Tua Golo dan Tua Panga melakukan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan adat di tingkat Gendang.
- Bersama Tua Golo dan Tua Panga menyelesaikan permasalahan sosial maupun sengketa lahan.
Tua Panga
- Memimpin Warga di tingkat panga
- Menerima tugas yang diberikan oleh Tua Golo dan/atau Tua Teno di tingkat Panga
- Menghadiri Lonto Leok terkait sengketa dan permasalahan lain di tingkat Gendang
Tua Kilo
- Memimpin Keluarga Besar
- Membantu urusan yang berkaitan dalam lingkup keluarga besar (kelahiran, perkawinan, dan kematian)
- Menerima tugas yang diberikan oleh Tua Panga di tingkat Keluarga Besar
- Menghadiri Lonto Leok terkait sengketa dan permasalahan lain di tingkat Panga
 
Melalui Lonto Leok atau Musyawarah Mufakat yang dihadiri oleh unsur-unsur adat sesuai dengan tingkatan Lonto Leok yang dilakukan (Gendang, Panga, Kilo) dan pihak-pihak yang berkepentingan sesuai dengan pertimbangan adat. Nilai utama yang menjadi acuan dalam Lonto Leok bukanlah persoalan “Menang” atau ”Kalah”, tetapi mencari “Benar” dan “Salah” dari setiap tujuan Lonto Leok itu diadakan.

Adapun tujuan dari Lonto Leok bagi Masyarakat Adat Colol antara lain: 1. Menyelesaikan sengketa dan permasalahan secara adat, 2. Membicarakan pelaksanaan suatu hajatan, 3. Mengadakan suatu peradilan adat, 4. Mendiskusikan kepentingan masyarakat adat, 5. Membahas pernikahan (di tingkat Kilo), dan lain-lain. Setiap melaksanakan Lonto Leok diawali oleh pembicaraaan awal dengan memegang Tuak. Setiap keputusan yang diambil harus berdasarkan “Iso Poli Wa Lencar, Toe Nganceng Lait Kole” atau Apa yang telah diputuskan bersama tidak boleh digugat kembali.
 

Hukum Adat

Gagasan orang Colol dalam membentuk ruang hidup berlandas pada 5 (lima) unsur, yaitu:
1. “Mbaru Bate Kaeng” adalah Rumah sebagai Tempat Tinggal,
2. “Natas Bate Labar” adalah Halaman untuk bermain, juga untuk melakukan ritus-ritus adat dan aktivitas lainnya,
3. “Compang Bate Takung/Dari” adalah Mesbah di tengah halaman yang merupakan tempat melakukan ritual adat yang menghubungkan manusia dengan alam, manusia dengan sang pecipta, dan manusia dengan sesama manusia serta tempat memberikan sesaji kepada roh leluhur
4. “Wae Bate Teku” adalah Sumber Air berasal dari hutan (Ulung Wae) yang mengalir bersatu dari beberapa mata Air bergabung yang disebut sungai, untuk keperluan mandi, minum, cuci, dan mengairi lahan atau sawah.
5. Uma Bate Duat” adalah Lahan dalam Arti Lingko (Tanah Pesekutuan Adat) sebagai sumber kehidupan,
Jika terdapat pemukiman yang memenuhi syarat yaitu memiliki lingko, mampu mengadakan ritual, jumlah penduduk yang banyak, dan dipertimbangkan oleh lembaga adat perlu untuk membentuk gendang baru. Pembukaan Kampung/Gendang Baru memerlukan beberapa langkah seperti Lonto Leok untuk memutuskan pembentukan Gendang Baru dan menentukan lokasi. Lalu dilanjutkan dengan mempersiapkan bahan bangunan untuk membuat rumah adat seperti Tiang Utama/Siri Bongkok dari hutan yang didahului dengan ritual adat Roko Molas Poco, atap, dinding, dan lantai dibuat dari Papan Serat. Lalu dipancangkan tanduk kerbau di puncak atap rumah adat. Setelah rumah adat selesai dilaksanakan ritual adat yaitu “Pukang Mbaru” dan “Cece Cocok Onto Golo” dengan persembahan kerbau dan babi. Saat proses ritual adat itu terdapat tarian seperti Mbata, Sanda, Wengke Leok, Raga oleh para lelaki dan Sae yang diperagakan oleh perempuan.
Pembukaan Lingko Rame/Randang diawali dengan ritual adat “Racang Cola” (mengasah kapak) dan “Racang Kope” (mengasah parang¬) bahan persembahannya adalah ayam jantan dan dilaksanakan di rumah adat kampung. Syarat pembukaan lingko adalah dipertimbangkan oleh Tua Teno dan Tua Golo bahwa sudah menjadi kebutuhan, berada di lokasi yang subur, dapat diakses, ada sumber air, dan berada di wilayah adat/gendangnya.
Ritual adat untuk menentukan lokasi dan membagi lingko “tente teno lengge ose” bahan yang dipergunakan dalam ritual ini adalah kayu teno untuk membuat mangka (gasing) yang dipancang di pusat tanah lingko rame tersebut lalu dibaluti dengan tali ose. Lekong (belahan bambu) sebagai tanda batas bagian antar satu dengan bagian yang lain, lekong ini ditarik dari pusat atau dari gasing lingko ke bagian luar lingko, semakin lebar maka pembagian lodok tersebut berbentuk seperti jaring laba laba. Bahan persembahan dalam ritual ini adalah seekor babi atau ela wono yang dilaksanakan di pusat lingko tersebut.

Ritual kalok/weri woja (tanam padi) dan weri latung (tanam jagung) bahan persembahan dalam ritual atau sesaji ini adalah seekor babi di Lingko dilaksanakan hanya saat akan menanam padi/jagu saja.

Ritual hang radang (panen jagung dan sayuran di tanah lingko rame) jagung dan sayur sayuran hasil panen dari lingko tersebut diritualkan di rumah adat kampung lalu dilaksanakan di setiap rumah warga masyarakat (kilo) adat bahan persembahan adalah seekor ayam. Jika tidak dibuat dipercaya akan ada sanksi dari alam.

Ritual ako woja (panen padi) setiap warga masyarakat yang panen padi di lingko rame tersebut hasil panenannya tidak semua diantarkan ke kampung tapi sebagian kecilnya akan disimpan di salah satu tempat yang dinamakan Asa, tempat penyimpanan padi di tengah lingko tersebut. Bahan persembahan dalam ritual adat tersebut adalah seekor babi.

Ritual Hang Woja Weru/Hang Rani saat makan padi yang baru dipanen dari lingko rame dengan bahan persembahan berupa Babi dan dilaksanakan di rumah gendang. Lalu dilanjutkan dilaksanakan di tiap-tiap rumah (Kilo) dengan bahan persembahan 1 ekor ayam.

Ritual puncak Hang Woja (syukuran panen) sebelum acara ini dilangsungkan di rumah gendang dan halaman kampung terlebih dahulu akan diadakan prosesi ritual Barong Wae, mengundang roh penjaga mata air untuk hadir dalam acara Hang Woja. Lalu dilanjutkan sore atau malamnya acara Torok Ela Hang Woja dengan bahan persembahan babi di rumah gendang. Keesokan harinya ada ritual Karong Woja Wole (penjemputan padi yang disimpan di asa tengah lingko) setelah padi tersebut sampai di rumah adat maka dibuat ritual di rumah adat dengan bahan persembahan seekor babi. Keesokan hari dilakukan ritual adat Paki Kaba Naka Woja Weru, sebelum kerbau tersebut disembelih maka tokoh adat yang memiliki kemampuan untuk mengucapkan doa adat yang berkaitan dengan syukuran hasil panen tersebut lalu kerbau tersebut disembelih oleh tua golo sebagai kepala wilayah adat dalam gendang tersebut.

Ritual Cikat Ela Cepa/Moi Woja Agu Latung dan hasil panen yang lain seperti ketela, mentimun, jali, pesi, umbian. Bahan persembahan dalam ritual ini adalah seekor babi. Sebelum acara dilangsungkan, masyarakat adat meramaikan hajatan ini dengan tarian “Caci” yang diperagakan oleh kaum pria sambil kegiatan tarian caci berjalan maka sekelompok tim tarian melakukan dendek dan kaum wanita melakukan tarian adat yaitu jai.

Lahan-lahan garapan (Lingko Rame/Randang, Lingko Saung Cue, dan Tanah Tobok) dikenakan Wono yang diatur oleh Tua Teno.
Diperbolehkan proses jual-beli lahan baik antar-warga Colol maupun antara warga Colol dengan pihak luar dengan sepengetahuan dari Tua Golo dan Tua Teno.
Dilarang mengambil kayu dan tanaman lainnya di wilayah hutan adat (Pong) “Ela wase lima”, jika ditemukan maka akan ditegur, jika selama 3 kali masih ditemukan maka akan dkenakan sanksi adat denda serendahnya tuak dan 1 ekor ayam sampai 1 ekor babi besar.
Dilarang mengambil kayu dan tanaman lainnya untuk dijual di Puar kecuali untuk kebutuhan papan atau rumahtangga sendiri (hanya boleh pakai parang). Mengambil kayu untuk kebutuhan papan dari Puar harus seizin Tua Teno dengan membawa Ayam dan Tuak. Jika tidak dilakukan maka akan turun para Tua Panga.
Lahan garapan yang berpindah tangan, maka pemilik baru tetap dikenakan wono dan terikat dengan aturan adat baik yang berkaitan dengan pranata sosial maupun yang berkaitan dengan pengelolaan lahan (bagi pihak luar).
Jika ada tanaman kayu dan lainnya yang ditanam berdekatan dengan uma tetangga lalu merugikan lahan tetangga di suatu saat, maka pemilik tanaman/uma melakukan Waeng Wake Lebo Saung dengan bahan 1 ekor ayam dan tuak sebagai permintaan maaf. Biaya kerugian dibicarakan kedua pihak, jika ada pihak yang tidak puas maka dibawa ke ranah pemangku adat.
Jika ada pihak yang memindahkan batas berupa pohon Nao untuk memperluas uma secara sengaja, maka diselesaikan di tingkat tua kilo. Jika tidak selesai, maka ke Tua Panga. Dan jika tidak selesai, maka dibawa ke tua teno. Proses peradilan adat dengan mendengarkan pihak-pihak lalu mengecek langsung ke lapangan dan kemudian disimpulkan dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut.
Pembuatan rumah, tidak boleh memasang pintu yang mengikuti hilir sungai yang terdekat, dipercaya akan menimbulkan akibat buruk dalam keluarga yang tinggal di dalamnya dari penyakit, perceraian, dan bahkan kematian.
Pembuatan rumah, tidak boleh memasang balok penyangga atap (Temba Rakang) dan tiang penyangga utama berada tepat di atas atau sejajar dengan pintu, dipercaya akan menimbulkan akibat buruk dalam keluarga yang tinggal di dalamnya dari penyakit, perceraian, dan bahkan kematian.
 
Dalam proses kawin-mawin adat dibagi dalam 2 bagian yaitu “Tungku”, “Cako”, dan“Cawi Cangkang”
Kawin tungku adalah anak perempuan dari saudara laki-laki dapat menikah dengan anak laki-laki dari saudara perempuan dalam keturunan yang sama. Pernikahan anak laki-laki bibi boleh menikah dengan anak perempuan paman.
Kawin cako adalah perkawinan antar-sepupu jauh (3 kali) atau antara anak laki-laki & perempuan dari sesama saudari. Harus antara anak perempuan dari kakak sepupu dan anak laki-laki dari adik sepupu. Jika terjadi Kawin Cako maka diadakan Go’et Rao Ajo Mbotek Ose berbahan 1 ekor ayam untuk meluruskan. Pada saat penyerahan mahar/belis, maka ujaran Rao Ajo Mbotek Ose disampaikan kembali untuk memperoleh restu leluhur dalam acara inti Woe (Acek Nao Wase Wunut).
Kawin cawi cangkang adalah perkawinan antara anak laki-laki dan perempuan dari keturunan yang berbeda. Pada saat proses lamaran, jika lamaran diterima maka ditandai dengan ketak (tukar cincin) lalu dilanjutkan diskusi keluarga untuk proses selanjutnya.
Perkawinan sah bila kedua pihak keluarga bersepakat menjalankan tahapan adat. 1. Proses pecing cama tua yaitu pihak keluarga laki-laki menyerahkan seekor kambing, seekor ayam, dan uang secukupnya sedangkan pihak wanita menyiapkan seekor babi sebagi bahan konsumsi sebagai tanda restu oleh orang tua keduanya. 2. Kedua keluarga bersepakat melakukan pertemuan, pihak keluarga laki-laki membawa uang secukupnya dan dua lembar kain songke melambangkan pembungkus siri pinang, seekor ayam dan seekor kambing sebagai bentuk kesepakatan dalam prosesi ba cepa, sedangkan pihak keluarga wanita menyiapkan seekor babi dan beras sebagai bahan konsumsi untuk pihak keluarga laki-laki. 3. Tahapan woe weki pernikahan secara adat dan pernikahan secara agama dihadiri oleh pihak anak rona. Setelah dilangsungkan pernikahan secara agama lalu dilanjutkan dengan acara “torok ela woe, acek nao wase wunut” dengan bahan persembahan seekor babi dan seekor kambing atau ayam sebagai tanda sah perkawinan baik secara agama dan secara adat.
Perkawinan toe kop adalah perkawinan yang tidak sesuai dengan etika dan norma adat antara anak laki-laki dari saudara laki dan anak perempuan dari saudara perempuan. Perkawinan itu dilarang secara adat. Ketika terjadi perkawinan toe kop, maka kedua pihak seharusnya bercerai. Namun, jika keduanya tetap ingin melanjutkan pernikahannya, maka keluarga kedua pihak harus melakukan ritual adat “Palo Woe” dengan konsekuensi adat kepada pihak keluarga laki-laki menyediakan seekor babi dan pihak keluarga perempuan menyediakan seekor kambing. Lalu dilakukan ritual penyilihan dosa atau “Oke Jurak” dengan tujuan agar dosa mereka dapat dibuang melalui air mengalir dan hilang seperti terbenamnya matahari.

Jika terjadi konflik rumah tangga, langkah awal dimediasi oleh orang tua kedua pihak. Jika tidak terjadi kesepakatan pasca mediasi, maka ada dua konsekuensi yaitu 1. Jika pihak pria menolak damai maka dikenakan sanksi adat berupa 1 ekor kerbau, 1 ekor kuda, dan uang secukupnya sesuai kesepakatan orang tua kedua pihak, maka istri/wanita dikembalikan ke keluarganya (Leba Toe Ngoeng), dan 2. Jika pihak wanita menolak damai maka dikenakan sanksi adat berupa pengembalian nilai belis (mahar kawin) kepada pihak pria (Leko Puu).
Jika terjadi perselingkuhan dikenakan 3 situasi yaitu:
1. Perselingkuhan Toe Kop Kop adalah perselingkuhan antara laki-laki dari pihak saudara laki-laki dengan perempuan (menikah/belum) dari pihak saudara perempuan maka dikenakan sanksi adat berupa 2 ekor kuda sebagai tena loma dan selembar kain sengke serta 1 ekor babi (untuk pihak lelaki), adapun sanksi untuk pihak perempuan yaitu 1 ekor kambing untuk membuat ritual adt Wo Ndekok (Penyilihan dosa).
2. Perselingkuhan atau perzinaan antara pria berstatus anak/keponakan dengan wanita berstatus ibu, bibi, atau ipar maka sanksi adatnya adalah 1 ekor kerbau bagi pihak pria dan 1 ekor babi bagi pihak wanita untuk diadakan ritual adat Oke Jurak Pana Mata Leso/Pola Munak.
3. Perselingkuhan antara laki-laki dan perempuan selain dengan 2 situasi di atas, apablia ditemukan oleh warga maka dikenakan sanksi adat berupa 1 ekor kuda dan selembar kain songke bagi pihak laki-laki dan 1 ekor babi bagi pihak perempuan.
Jika terjadi perkelahian atau percekcokan baik antar individu maupun antar-kelompok, maka dilakukan mediasi oleh pihak ketiga agar dapat berdamai. Namun, jika salah satu piha menderita luka yang parah, maka pelaku dikenakan sanksi adat yaitu Wunis Peheng/menanggung biaya pengobatan. Wujud dari perdamaian dari konflik itu adalah 1 ekor babi dan 1 ekor kambing. Sanksi adat perkelahian individu sama dengan sanksi adat konflik berkelompok.
Jika terjadi pencurian di wilayah adat Colol maka dikenakan sanksi berupa mengganti rugi seharga barang yang dicuri. Lalu pelaku diarak di tengah pemukiman dari rumah ke rumah untuk menyampaikan pernyataan “Saya ini adalah pencuri, saya minta jangan tiru saya.” Pelaku juga didenda dengan ayam dan tuak (ringan) atau 1 ekor babi, beras, dan tuak untuk pencurian berat.
Pada saat kematian salah seorang warga maka ada kondisi Piren/ berduka selama 2 hari setelah penguburan, baik di wilayah Gendang dan Lingko. Warga selama 2 hari dilarang untuk membunyikan musik/menyanyi dan tidak boleh kerja menyiang rumput. Adapun bagi yang ambil hasil kebun harus ditutup dnegan daun kering. Bagi yang melanggar didenda 1 ekor ayam dan tuak (dengan besaran relatif). Ketika orang yang sama melakukan pelanggaran yang sama selama 3 kali maka dikenakan sanksi denda 1 ekor babi untuk pesta kenduri orang yang meninggal.
Pekuburan dan proses menguburkan orang yang meninggal maka harus mengarah selain ke timur-selatan/tenggara (Arah Kuburan). Jika dilakukan dipercaya akan menimbulkan akibat buruk ke keluarga. Orang yang meninggal oleh sebab musibah/ala’, maka dipisahkan kuburannya dengan kuburan lain dan kepalanya menghadap ke arah air yang mengalir.
Jika ada yang mandi di sumber air (Wejang Wae) atau sungai, maka harus memberikan tanda bahwa ia sedang mandi di sana saat ada yang menanyakan (tanda orang lain akan pergi ke sumber air itu). Jika dengan sengaja tidak membalas sapaan atau tidak menyapa lebih dulu, maka akan dikenakan sanksi berupa 1 lembar kain adat, 1 ekor ayam, dan 1 bonggo/botol tuak.
Jika ada kata-kata hinaan atau fitnah yang keluar dari pelaku, maka akan diberi sanksi adat berupa 1 ekor ayam dan 1 bonggo tuak.
Pada saat mengadu segala persoalan dan mengabaikan/melangkahi pemangku adat, maka akan dikenakan sanksi denda 1 ekor kambing, uang sebesar Rp. 500.000, dan 1 bonggo tuak.
Biaya mengadakan proses peradilan adat dan penyelesaian permasalahan secara adat adalah sebesar Rp. 1.000.000 yang dibayarkan di awal oleh masing-masing pihak (dicatat dan diterima oleh Tua Golo dan/atau Tua Teno). Jika tidak puas dengan keputusan adat maka pihak yang tidak puas dapat melanjutkan ke pihak lain.
 
Pada bulan Juni tahun 2016 di Gendang Colol, terjadi pelanggaran adat berupa menebang pohon dalam jumlah banyak di wilayah hutan adat (Puar) sehingga dikenakan denda adat berupa satu ekor babi, 10 bonggo tuak, Beras 10 kg, Rokok 10 bungkus, dan uang Rp. 1.000.000.
Pada bulan Agustus tahun 2018 di Gendang Colol, terjadi pelanggaran adat berupa perkawinan toe kop sehingga dilakukan ritual adat “Oke Jurak”. Pihak keluarga laki-laki menyerahkan 1 ekor babi dan uang Rp. 500.000, dan pihak keluarga perempuan menyerahkan 1 ekor kambing dan uang Rp. 500.000.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Woja (Padi), Daeng (Singkong), Latung (Jagung), Teko (Keladi), Tete (Ubi Jalar), Kentang, dll. Protein Nabati: Koja (Kacang tanah), Wua Tuang (Brendi Bon), Kedele, dll. Protein Hewani: Babi, Ayam, Kambing, Kuda, Kerbau, Sapi, Anjing, Ikan, Belut, Udang, Kepiting Air Tawar, Katak, Tikus, dll. Sayuran: Buncis, Tago (Kacang panjang), Labu, Daun Singkong, Saung Sawe (Bayam), Selada, Kangkung, Daun Ara, Daun Markis, Daun Pepaya, Kol, Pecai (Semacam Kol), Saung Munang, Milos, Kenti, Saung Radang (Daun Kastela), dll. Buah-buahan: Padut (Pepaya), Muku (Pisang), Pau (Mangga), Nenas, Nderu (Jeruk), Mok (Nangka), Markis (Markisa), Jembu (Jambu Biji & jambu Air), Wokat (Alpukat), dll.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Wunis (Kunyit) untuk menyembuhkan luka dalam, Halia (Jahe) untuk demam dan hangatkan badan, Welu (Kemiri) untuk minyak urut, sakit perut, minyak rambut, dan haluskan wajah, Pucuk Daun Jambu untuk diare dan sakit perut, Daun Pacuacu untuk susah BAB, Legi untuk obati luka, Rebusan Daun Sereh untuk kolesterol, Daun Binahong untuk menghaluskan wajah dan menurunkan panas, Saung Tongkak & Saung Legi untuk sakit lambung, Kulit Kayu Lui, Sita, dan Kejoli (Jarak) untuk mencuci perut, Kulit kayu Ajang & Uwu untuk mencuci perut setelah melahirkan, Daun Kopi Robusta & Kulit Kayu Dadap Berduri untuk obat luka luar, Kulit Kayu Lasang untuk luka dan penyakit luar dan dalam, Saung Rea dicampur madu untuk obati batuk, Tambar untuk obati sakit perut, dll.
Papan dan Bahan Infrastruktur Tiang Rumah: Pohon Uwu, Pohon Dora, Pohon Wuhar, Pohon Worok, Pohon Mpui, Pohon Meni’i (5 tahun panen), Pohon Sureng (puluhan tahun), Pohon Jati, Pohon Mahoni, dll. Dinding Rumah: Pohon Ajang, Pohon Ngancar, Pohon Pinis (Pinus), Pohon Lumu, Pohon Waek, Pohon Redong, Pohon Sengon, Pohon Leba, dll. Atap Rumah: Ijuk, Alang-alang, Sante dari Anyaman Bambu/Kayu, dll.
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, jahe, Lengkuas, Daun Serai, Merica, Kemiri, Jeruk Nipis, Daun Salam, Suna Bakok (Bawang Putih), Suna Wara (Bawang Merah), Lacimek, Daun Seledri, Selasi, dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, Cengkeh, Bawang Merah, Bawang Putih, Vanili, Coklat, Lacimek, Mangga, Kemiri, Kayu (Papan & Balok), Kentang, dll.