Wilayah Adat

Ngata Ntoli

 Terverifikasi

Nama Komunitas Ntoli
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota DONGGALA
Kecamatan Banawa Selatan
Desa Mbuwu
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 5.050 Ha
Satuan Ngata Ntoli
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat Watatu
Batas Selatan Surumana
Batas Timur Surumana Lumbulama
Batas Utara Lalombi

Kependudukan

Jumlah KK 120
Jumlah Laki-laki 270
Jumlah Perempuan 249
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Dalam sejarah lisan orang da’a tanah ntoli subjek yang memilki status dan pengakuan, karena ntan adalah bagian dari kehidupan yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Bagi kepercayaan orang da’a, tanah bahagian dari asal mula di ciptakan manusia.

Tanah ntoli adalah salah satu wilayah adat yang statusnya berbeda dalam system kepemilikan tanah adat orang da’a . secara geografis pun letak tanah ntoli juga berbeda dengan posisi area perladangan begitu pula nilai-nilai historinya.

Tanah Ntoli begitu sebutannya, adalah tanah sumber kehidupan tanah adat yang dikuasai oleh lembaga adat dan dapat dimiliki oleh semua orang da’a di sepanjang pegunungan kamalisi (gawalise). Tanah Ntoli adalah areal yang satu-satunya terbentang datar dan diperbolehkan dijadikan perkampungan sekaligus berladang karean area ini dihuni oleh lima generasi
sejarah kehidupan orang da’a Madika Langa, Totua Bangunasa , Talenga, dan simbay adalah orang yang pertama ditunjuk olaeh rakyat untuk mengatur wilayah- areal serta mengatur system pemerintahan dan nilai-nilai adat orang da’a yang tersebar di wilayah adat kasoloa, kinovaro, dan dombu bahkan sampai ke lemba palu. Melalui saudara perempuan madika langa yang bernama Mbaluli, tanah ntoli dibuka dinamakan sebagai Ntoli karena dapat air sumber kehidupan sebagai sember kehidupan orang da’a . ntoli juga di kenal dengan Ova Mpanggoni. Di tempat ini juga berkali-kali dijadikan sebagai sejarah perjanjian perbatasan akibat perang antar suku pada saat itu. Selain itu pula tempat ini juga dijadikan sebagai benteng pertahanan, pusat pemerintahan adat di wilayah adat Kasoloa serta tempat pemukiman generasi orang Da’a.

Sebelum kolonial belanda masuk ke wilayah Sulawesi tengah khususnya pada wilayah orang da’a dalam sejarah lisan orang da’a, tempat ini pernah terjadi peperangan antar etnis masyarakat “Sumpah Adat Untuk Tanah Warisan Leluhur”
Tanah Ntoli (Tanah Sumber Kehidupan)
Ei tana a’da rintoli nekatoko ri a’da untu laintanina. Sema mobalutakana ntau ntanina mau santubi rabai raparajea anitu mbo viata totua kami to ulujadi. Artinya: Ini tanah adat ntoli…tanah sumber kehidupan..!! dikuasai oleh adat untuk membrikan kehidupan pada orang banyak masyarakat adat, tidak bias dijual kepada orang lain, walaupun hanya sedikit, jangan diberikan..!! maka dia akan diterlantarkan oleh anitu viata (roh leluhur) kami to ulujadi (sang pencipta)

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Ova : Lahan Bekas peninggalan leluhur menjadi hutan kembali ditumbuhi kayu-kayu relatih kecil, suatu saat bisadi olah kembali secara adat oleh komuntas Ntoli
Pantalu : lahan hutan yang diperbolehkan dibuka sesuai aturan adat
Bonde : perkebun untuk mencari nafkah kehidupan dan di perbolehkan di jadikan pemukiman atau ngata (kampong)
 
1. Sistem penguasaan
Sumber daya alam di manfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahtetaraan dan di kuasai serta dikelola bersama secara adil untuk kesejahteraan rakyat. Dalam penguasaannya, sumber daya alam di kuasai dan di manfaatka oleh kelompok di mana semua orang mempunyai hak yang yang sama dalam penguasaannya. Penguasan yang di maksud di sini adalah penguasaan komunal. Penguasaan komunal adalah penguasaan dan kepemilikan berdasarkan prinsip dan kepentingan bersama di bawah pengawasan bersama.Dalam prinsip penguasaan juga, Komunitas Kamalisi tidak tertutup kepada siapa saja yang ingin mengelolah Sumber Daya Alam yang ada di wilayah adatnya, dengan harus meminta izin atau memberitahukan /pemberitahuan lembaga adat.

2. Sistem Kepemilikan
Tanah dan Masyarakat hukum adat saling memiliki korelasi yang signifikan, ini menciptakan suatu hak untuk menggunakan, menguasai, memelihara sekaligus mempertahankannya. Hak-hak dan system kepemiliklah tanah di wilayah adat da’a lumbulama juga seperti halnya beberapa wilayah adat yang ada disulawesi tengah. Kepemilikan tersebut di dasarkan atas dan proses kepemilikan komunal, kepemilikan individual dengan sebuah prinsip yang telah di percayai oleh orang da’a bahwa tanah itu adalah tanah adat yang telah di wariskan dan di berikan oleh leluhur untuk ntodea (Masyarakat) agar dijaga. Prinsip kepemilikan dan penjagaan itu dapat dilihat dari ungkapan leluhur ”Menjual tanah adat sama dengan menjual adat, menjual adat berarti menjual rakyat dan menjual rakyat dalah mendustai dan menyakiti leluhur”



di mana semua orang mempunyai hak yang yang sama dalam penguasaannya. Penguasan yang di maksud di sini adalah penguasaan komunal. Penguasaan komunal adalah penguasaan dan kepemilikan berdasarkan prinsip dan kepentingan bersama di bawah pengawasan bersama.Dalam prinsip penguasaan juga, Komunitas Kamalisi tidak tertutup kepada siapa saja yang ingin mengelolah Sumber Daya Alam yang ada di wilayah adatnya, dengan harus meminta izin atau memberitahukan /pemberitahuan lembaga adat.
2. Sistem Kepemilikan
Tanah dan Masyarakat hukum adat saling memiliki korelasi yang signifikan, ini menciptakan suatu hak untuk menggunakan, menguasai, memelihara sekaligus mempertahankannya. Hak-hak dan system kepemiliklah tanah di wilayah adat da’a lumbulama juga seperti halnya beberapa wilayah adat yang ada disulawesi tengah. Kepemilikan tersebut di dasarkan atas dan proses kepemilikan komunal, kepemilikan individual dengan sebuah prinsip yang telah di percayai oleh orang da’a bahwa tanah itu adalah tanah adat yang telah di wariskan dan di berikan oleh leluhur untuk ntodea (Masyarakat) agar dijaga. Prinsip kepemilikan dan penjagaan itu dapat dilihat dari ungkapan leluhur ”Menjual tanah adat sama dengan menjual adat, menjual adat berarti menjual rakyat dan menjual rakyat dalah mendustai dan menyakiti leluhur” .

 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat da’a Ntoli
Struktur a. Madika b. Tomalanggai c. Totua ada d. Ntodea
a. Madika adalah pemimpin petinggi dalam masyarakat adat da’a di Marawola barat sampai di kecamatan lainnya di mana komunitas da’a berada yang kedudukannya bertempat di Dombu, memimpin dan mengatur dan menjalankan amanat rakatnya untuk kesejahteraan yakyat. Profil madika tidak seperti tradisi dan profil raja. Madika adalah pemimpin yang tidak punya singgasana, madika juga rakyat yang bekerja menjadi petani layaknya ntodea (rakyat biasa)

b. Toma Langgai adalah seorang yang dipercayakan oleh madika sebagai orang menjaga keamanan dan melindungi rakyatnya dari gangguan. Toma langgai juga sebagai pemimpin dan panglima perang.

c. Totua adalah tokoh atau orang tua adat yang mengatur dan melaksanakan system adat di ngata-ngata (kampong-desa). Masing-masing orang tua adat di tunjuk oleh rakyat lewat Posiromu (Peretemuan adat)serta memeiliki penegetahuan adat dan pengalamannya dan terpercaya

d. Ntode adalah rakyat komunitas adat da’a. 
Mosiromu ( dilakukan dengan musyawarah bersama) 

Hukum Adat

- Aturan yang berlaku jika masyarakat yang membuka lahan hutan terlarang di pegunungan tanpa sepengetahuan totua ada buluna akan dilakukan sanksi
- Jika selesai panen akan dilakukan upacara adat (Vunja) syukuran adat
Nobanta merupakan upacara syukuran sebelum dan sesudah
melakukan panen
 
Givu artinya bentuk sanksi berat atau ringan
Vaya artinya aturan sanksi yang di berlakukan untuk tidak mengulangi perbuatan
Sompo artinya sanksi perbuatan yang tidak menyenangkan atau mempermalukan perempuan atau keluarga.

Sebelunya datangnya agama di masyarakat adat da’a ntoli (Kamalisi) sudah mengenal prinsip-prinsip sepuluh Norma-norma kehidupan manusia.
Tidak boleh mencuri
Tidak boleh berdusta
Tidak boleh berzinah
Tidak boleh mempermalukan perempuan
Tidak boleh membunuh
Tidak boleh mengolok-olok orang lain-menghina
Tidak boleh berbohong
Tidak boleh menyalah gunakan wewenang
Tidak boleh mendahului orang tua
Tidak boleh ingkar janji
 
Pemuda adat melakukan kesalahan dengan tindakan criminal (pemukulan) terhadap pemuda lainnya. Maka di lakukan givu (sangsi) dengan mengeluarkan denda adat yakni ayam, piring sebagai mana di tentukan oleh orang tua adat dan tidak akan mengulangi perbuatannya (Vaya) 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbonhidrat: Ubi, jagung, Talas, Ubi jalar, padi ladang. Protein : kacang panjang, kacang tanah Vitamin : jeruk, jambu air, jambu, pisang, durian, alpokat, sirsak dll
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tumbuhan obat-obatan :kulit kayu vula – obat sakit mata (iritasi) Getah batang pohon kelor- obat sakit mata, Daun kopi = obat luka, getah kayu jawa –obat luka, daun sarikaya-obat asma, daun katilalo obat luka, batuk dan suara paru. Kayumanuru : untuk memerawat kulit agar segar, bersih, indah, awet dan bercerah
Papan dan Bahan Infrastruktur Tava bemba : untuk atap rumah (adat) Kayu Tavaili, ntoe dan Nantu : untuk tiang membangun rumah maupun rumah adat bembatava, Vakava : untuk atap rumah
Sumber Sandang Kayu nunu : untuk pembuatan baju adat
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Balentua, Tumbavani, kuni, pia, katumbara, lemo,
Sumber Pendapatan Ekonomi Coklat, cengkeh, padi gunung, jagung dan ubi-ubian