Wilayah Adat

Muluy

 Teregistrasi

Nama Komunitas Muluy
Propinsi Kalimantan Timur
Kabupaten/Kota PASIR
Kecamatan Muara Komam
Desa Swan Slutung
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 12.972 Ha
Satuan Muluy
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat belum ada
Batas Selatan belum ada
Batas Timur belum ada
Batas Utara belum ada

Kependudukan

Jumlah KK 28
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Terbentuknya Kampung Muluy lebih karena masyarakat sekitarnya berpindah ke wilayah sekitar sungai untuk memenuhi kebutuhan air untuk hidupnya. Masyarakat Kampung Muluy dipimpin oleh seorang pemimpin bergelar Pengawa Layung Jagar, pada jaman penjajahan Belanda sekitar 1800, saat itu mereka masih bekumpul di Muluy lama (wilayah Swanslotung). Karena ada perselesihan maka mereka pindah ke Kampung Muluy Tengah yang letaknya di pinggir sungai. Wilayah tersebut juga dipilih karena wilayah itu lebih banyak buah dan tersedianya air yang berlimpah. Sekitar tahun 1986 mereka harus pindah (lagi) ke area di sekitar Gunung Janas. Ini disebabkan HPH PT. Telaga Mas lokasinya pindah dari lokasi sebelumnya yang bertepatan dengan lokasi permukiman Kampung Muluy. Alasan lainnya adalah karena telah tersedianya sarana jalan, sehingga akan lebih mudah bagi masyarakat untuk menjaga kampungnya dari atas gunung. Bersamaan dengan berpindahnya lokasi HPH PT Telaga Mas, sebanyak 5 keluarga masyarakat Kampung Muluy juga turut pindah sementara sisanya masih tetap tinggal di kampung tersebut. Pada tahun 1999, masyarakat Kampung Muluy kembali berkumpul untuk mendiami permukiman di tepi Sungai Muluy yang terletak di sela kaki Gunung Lumut. Kini masyarakat Kampung Muluy mendiami 50 (lima puluh) rumah kayu beratap seng berukuran 5x7 meter. Perkampungannya terletak di area di mana sebelumnya merupakan tempat penumpukan kayu di tepi jalan HPH PT Telaga Mas. Permukiman yang didiami oleh Kampung Muluy dibangun oleh Dinas Sosial Kabupaten Pasir pada tahun 2000.
jika di urut dari keturunan pertama hingga yang hidup sekarang sudah keturunan ke-13, dimulai dari Layung Jagar (kepala adat pertama) hingga Jidan (kepala adat sekang).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pemukiman
Ladang : ditanami padi gogo selama 2 tahun berturut-turut, diberakan 5 – 8 tahun (jika subur) dan 10 – 20 tahun (kurang subur). Ladang yang sudah diberakan selama 2-3 tahun disebut lati ono; dan ladang yang lama sekali dan sudah menyerupai hutan belukar karena sudah ditinggalkan sekitar 5-6 tahun di sebut lati litiye; bekas ladang tua disebut alas lati litiye.
Sipung atau kebun
Alas royang atau hutan
 
Masyarakat Kampung Muluy memiliki pandangan sendiri tentang hutan. Hutan dianggap sama dengan gudang harta karun serta mereka juga menyebutnya jatas tete ine (air susu ibu). Karena dari hutan, mereka bisa mendapatkan sumber penghidupan dan menghasilkan uang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Mereka biasanya mengambil hasil hutan berupa buah-buahan, madu, rotan dan binatang buruan. Walaupun tidak selalu mencukupi kebutuhan, mereka tidak merasa harus menebang pohon untuk mendapatkan kayunya. Selain untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga, hutan bagi masyarakat Kampung Muluy juga menyediakan tumbuhan obat-obatan, bahan anyaman, sayur-sayuran hingga tumbuhan perlengkapan untuk upacara adat. 

Kelembagaan Adat

Nama belum ada
Struktur belum ada
belum ada 
belum ada 

Hukum Adat

belum ada 
belum ada 
belum ada 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan belum ada
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur belum ada
Sumber Sandang belum ada
Sumber Rempah-rempah & Bumbu belum ada
Sumber Pendapatan Ekonomi belum ada