Wilayah Adat

To Bada Bomba

 Teregistrasi

Nama Komunitas To Bada
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota POSO
Kecamatan Lore Selatan
Desa Bomba
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 21.352 Ha
Satuan To Bada Bomba
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan
Batas Barat Desa Pada
Batas Selatan Sungai Malei
Batas Timur Desa Tonusu
Batas Utara Desa Lelio/ Sungai Lairiang

Kependudukan

Jumlah KK 402
Jumlah Laki-laki 301
Jumlah Perempuan 408
Mata Pencaharian utama Pertanian

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Bagi orang yang tinggal di lembah dan di daratan bada dikenal dengan sebutan photo towia tampo ada to bada. Tak ada satupun alasan yang didapat tetapi dari berbagai analisa historis dalam kepercayaan hukum adat, tobada menurutcerita orang terdahulu sebelum masyaraka berada di desa bomba, nenek moyang mereka mengatakan bahwa mereka tinggal di sebuah kampung tua yang bernama Kinta Hambali dan dipimpin oleh Langke Bulawa. Di sanalah mereka tinggal bersama nenek moyang . Setelah beberapa tahun terjadi perpecahan kepala keluarga yang mengakibatkan mereka berpindah ke sebuah desa padan, yaitu desa Bomba. Di sanalah mereka bercocok tanam hingga saat ini.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Wumbu wana: wilayah berupa hutan yang tidak boleh dimasuki orang
Wana: hutan larangan
Pandulu: hutan produksi
Bonde: kebun
Polida'a:persawahan
Powanua: pemukiman
 
berdasarkan atas kepemilikan pribadi dan pengelolaannya berdasarkan aturan lembaga adat dan melalui peraturan desa. 

Kelembagaan Adat

Nama Tu'analwanua
Struktur Tupooboka: ketua adat Guruntolisi: sekretaris Topamboli: Bendahara Suroatautopeola: Anggota Ketua sekretaris dan anggota kelembagaan adat
Ketua kelembagaan adat mengkoordinir beberapa sekretaris dan anggota dan musyawarah 
musyawarah 

Hukum Adat

Ada potiwunu (adat selamatan) merupakan satu hal mutlak dilaksanakan berupa upacara pengucapan syukur keselamatan

Ada mowahe boso (upacara adat selamatan ternak kerbau) yaitu upacara motinuwu'inabulu (kerbau) yang mirip upacara agama primitif tentang korban sembelihan untuk cucuran darah dengan makna agar keselamatan dan kesehatan selanjutnya perkembangbiakan kerbau telah menginjak tetesan darah akan meningkat. Hal ini erat hubungannya dengan sistem perawatan ternak, karena di samping darah sembelihan dilengkapi dengan berbagai macam ramuan obat tradisional yang dipercikkan ke tubuh kerbau dan lainnya disemburkan ke arah kerbau.

Ada mohia, mbobata 'bondeatau hai mobelai tampo ( upacara adat pembukaan lahan kebun dan sawah) adalah awal dari segala kegiatan pembukaan lahan baru, percetakan sawah baru. Mohia artinya membagi-bagi lahan perkebunan untuk tiap orang/ keluarga. Mobantabondea tau mobelai tampo artinya kegiatan awal tanah lahan usaha perkebunan secara adat bagi orang tertentu, yang selanjutnya bekerja sama atau gotong royong. Pelaksanaan upacara tersebut merupakan upacara agama prmitif orang yang memandang darah percikan dari korban sembelihan berupa manusia, hewan (kerbau, babi merah, dan paling kecil ayam). Hal ini ada tampo bada menetapkan tidak diperlukan lagi dan digantikan dengan upacara keagamaan (ibadah syukur)

Ada manggala uwai (upacara adat membuka saluran air persawahan) yaitu serupa dengan upacara adat Ada Mohia, Mobata'bondeatau Hai Mobelahai Tampo, yang mana cenderung seperti upacara primitif dengan korban darah sehingga sebelum air dilepaskan untuk masuk melalui jalurnya (mata air), babi merah diletakkan di pintu air kemudian pintu air dibuka atau lepas jalur. Babi disembelih sehingga air mengalir bersama darah.
 
Ada potinuwu (adat selamatan): upacara yang mutlak dilakukan untuk mengucap syukur.

Ada pelingka'i (adat perkawinan melangkahi kakak kandung): dalam saudara se kandung kakak beradik entah sejenis atau berbeda kelamin jika mendahului kakaknya dalam perkawinan maka upacara ini wajib diadakan oleh adiknya untuk kakaknya.

Holotawine (mas kawin/mahar) bagi wanita Bada terdiri dari:
- porantuai: 1 ekor kerbau
- polaki'i: 1 ekor kerbau
- pambawa'abaru: 1 ekor kerbau
- porarei: 1-4 ekor kerbau
- peluhi (ikatan parang): jumlah ikatan terdiri dari masing-masing ikatan 10 mata menurut jumlah ekor kerbau mahar
- mata umi: 1 ekor babi
tomempauba/ kauwahea: 1 mata kapak

katampua: pembantaian kerbau menurut kebutuhan melihat kehadiran anggota masyarakat yang turut berbela sungkawa.
 
Bagi orang (laki-laki maupun perempuan) yang bukan suami istri kedapatan bicara seperti di kamar wanita atau di tempat yang tidak sepantasnya akan dikenakan sanksi ragivu atau dendan atau hukim adat sebanyak 1 ekor kerbau atau sejumlah Rp.1.000.000,- 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, pisang, ubi kayu
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kunyit
Papan dan Bahan Infrastruktur Leda uru
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, sere, lengkuas
Sumber Pendapatan Ekonomi Pertanian