Wilayah Adat

Desa To Bada Badangkaia

 Teregistrasi

Nama Komunitas To Bada
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota POSO
Kecamatan Lore Selatan
Desa Badangkaia
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 8.101 Ha
Satuan Desa To Bada Badangkaia
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Hutan Negara dan Sungai
Batas Selatan Rampi
Batas Timur Desa Bulili
Batas Utara Desa Gintu

Kependudukan

Jumlah KK 252
Jumlah Laki-laki 502
Jumlah Perempuan 419
Mata Pencaharian utama Pertanian

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Awalnya sekelompok pemburu hewan hutan yang dipimpin oleh seorang laki-laki yang bernama Manuru yang asalnya dari Sulawesi Selatan Kabupatenm Luwu, dari wilayah rimba yang terletak di sebelah utara Palopo. Mereka datang di suatu pegunungan lalu tinggal untuk sementara waktu. Awalnya mereka datang menancapkan lembing merek ake dalam tanah lalu mencabutnya, ternyata keluarlah tetsan air yang berwarna kuning. Oleh karena yang tumbuh di sekitaran tempat itu adalah kunyit. Sehingga mereka menamakan tempat tersebut Badakaia yang artinya kunyit banyak. Manuru kawin dan memperanakkan yang diberi nama Rapa Bada. Rapa Bada mempunyai keturunan 3 orang laki-laki. Salah satunya adalah Tolando yang hingga saat ini mempunyai beberapa generasi di Badangkaia.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Wumbu wana: wilayah berupa hutan
wana: hutan larangan
pandulu: hutan produksi
Bonde: Kebun
Polida'a: persawahan
Powanua: pemukiman
 
Sistem penguasaan dan pengelolaan wilayah berdasarkan atas kepemilikan pribadi dan pengelolaannya berdasarkan aturan-aturan lembaga adat dan melalui peraturan desa. 

Kelembagaan Adat

Nama Lowa
Struktur Topo oboka Guruntolisi Topemboli Suro atau topeola
Topo oboka: ketua
Guruntolisi: sekretaris
Topemboli: bendahara
Suro atau topeola: anggota
 
musyawarah lembaga adat 

Hukum Adat

Giwu: hukuman/ sanksi terhadap pelanggaran adat

- Ada Mowahe Boso (upacara adat selamatan ternak kerbau)yaitu upacara motinuwu'l baulu (kerbau) yang mirip upacara agama primitif tentang korban sembelihan untuk cucuran daran dengan makna agar keselamatan dan kesehatan. Sealnjutntya perkembangbiakan kerbau telah menginjak tetesan darah akan meningkat. Hal ini erat hubungannya dengan sistem perawatan ternak, karena di samping darah sembelihan dilengkapi dengan berbagai macam ramuan obat tradisional yang dipercikan ke tubuh kerbau dan yang lainnya disemburkan ke arah kerbau.
- Ada mohia, mobata 'Bonde atau Hai Mobelai Tampo (upacara adat pembukaan lahan kebun dan sawah) adalah awal segala kegiatan pembukaan lahan baru, percetakan sawah baru. Mohia artinya membagi lahan perkebunan untuk tiap orang/ keluarga. Mobata bonde atau mobelai tampo artinya kegiatan awal melukai tanah lahan usaha perkebunan secara adat bagi orang tertentu, yang selanjutnya bekerja sama atau secara gotong royong. Pelaksanaan uopacara tersebut merupakan upacara agama primitif yang memandang darah percikan dari korban sembelihan berupa manusia, hewan (kerbau, babi merah, dan ayam). Hal ini Ada Tampo Bada menetapkan tidak diperlukan lagi dan diganti dengan upacara keagamaan (ibadah syukur).
- Ada manggala uwai (upacara adat membuka saluran air persawahan) yaitu serupa dengan upacara adat Ada Mohia, Mobata'bondeatau Hai Mobelahai Tampo, yang mana cenderung seperti upacara primitif dengan korban darah sehingga sebelum air dilepaskan untuk masuk melalui jalurnya (mata air), babi merah diletakkan di pintu air kemudian pintu air dibuka atau lepas jalur. Babi disembelih sehingga air mengalir bersama darah.
 
Ada Potinuwu (adat selamatan): hal yang mutlak dilaksanakan berupa upacara pengucapan syukur keselamatan

Ada pelingka'i (adat perkawinan melangkahi kakak kandung): dalam hal saudara kandung kakak beradik yang sama maupun beda jenis kelamin dan mendahului kakaknya dalam perkawinan maka adiknya wajib mengadakan upacara ini yang diberikan kepada kakalnya. Jika kakaknya laki-laki berupa seperangkat kain dan sarung, jika kakaknya wanita berupa seperangkat baju wanita dan sarung.

Holotawine (mas kawin/mahar) bagi wanita Bada terdiri dari:
- porantuai: 1 ekor kerbau
- polaki'i: 1 ekor kerbau
- pambawa'abaru: 1 ekor kerbau
- porarei: 1-4 ekor kerbau
- peluhi (ikatan parang): jumlah ikatan terdiri dari masing-masing ikatan 10 mata menurut jumlah ekor kerbau mahar
- mata umi: 1 ekor babi
tomempauba/ kauwahea: 1 mata kapak

katampua: pembantaian kerbau menurut kebutuhan melihat kehadiran anggota masyarakat yang turut berbela sungkawa.
 
Mampohiola Tonaboko: berjalan seiring secara sengaja dengan seorang yang telah berumahtangga dan berbeda jenis kelamin tanpa saksi dan bukan saudara kandungnya. Dikenakan giwu 1 ekor kerbau atau Rp.1000.000,- 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, umbi-umbian, jagung, sagu
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kunyit: patah tulang daun buaya: pertumbuhan rambut bure-bure atau pedilapi: mengeluarkan pembekuan darah
Papan dan Bahan Infrastruktur bambu: untuk atap rumah pohon aren (ijuk): untuk atap rumah alang-alang: untuk atap rumah pohon gamal: untuk tiang rumah pohon po'orio: untuk tiang rumah pohon samanibali: untuk tiang rumah
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu bawang, kunyit, lengkuas, jeruk
Sumber Pendapatan Ekonomi pertanian