Wilayah Adat

Wanua Baringen

 Tersertifikasi

Nama Komunitas Baringen
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota ENREKANG
Kecamatan Maiwa
Desa Baringen
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.213 Ha
Satuan Wanua Baringen
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan
Batas Barat Sungai Tabang
Batas Selatan Belawa, Botto Lacobo, Botto Beu, Labara
Batas Timur Botto Bulo, Botto Sawa, Desa Tana Toro, Desa Betao, Desa Kalempang
Batas Utara Desa Labuku (Botto Bulo, Bullerang Lopi, Pakkalamorang, Paggasa Kerbau, Botto Cako, Lappa lembong)

Kependudukan

Jumlah KK 120
Jumlah Laki-laki 324
Jumlah Perempuan 342
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah Masyarakat Adat Baringin, sangat berkaitan erat dengan cerita-cerita To Manurun di Sulawesi Selatan. Menurut pandangan Pemangku Adat setempat yang sangat terkenal dengan sebutan “Appa Allirinna Wanua” atau “empat pilar penopang kehidupan” yang merupakan representasi dari empat unsure kehidupan berupa tanah, air, udara dan api, mengatakan bahwa asal muasal penamaan kampong “Baringin” dimulai sejak petunjuk dari sang To Manurun, “bahwa suatu saat akan ada sebuah kampung yang berada di dekat sebuah pohon “Baringin” yang tumbuh di pinggir sungai”. Disinilah tempat pemukiman tua masyarakat adat baringin.

Sebelum Masyarakat Adat Baringin bermukim di Kampong Baringin (Desa Baringin), pada awalnya Masyarakat Adat Baringin merupakan komunitas-komunitas yang hidup secara berpindah-pindah di pengunungan-pegunungan Latimojong tepatnya di Botto tumeneng dengan pola perkampungan mengikuti lokasi "dara" (berkebun) yang dibangun komunitas-komunitas. Pola kehidupan ini berlangsung sejak turun temurun hingga penjajahan kolonial belanda.

Masyarakat Adat Baringin merupakan satu-kesatuan rumpun dari komunitas adat Roa, yang terkenal dengan sebutan:
- Indo'I La Buku
- Ana macoa I Batarang
- Ana' Tangnga I Baringin
- Ana' Cappa'I Tanete

Keberadaan masyarakat adat baringin dibuktikan dengan adanya beberapa situs yang sampai saat ini masih dijaga, antara lain Gowa Sambopu yang memiliki ukiran orang yang sedang menenun, Kuburan Tua. Dalam tradisi masyarakat adat Baringin sampai saat in masih dipertahankan adalah tidak akan melakukan siarah kubur kalau tidak diawali dengan siarah ke makam Puatta Baringin (Orang yang dituakan Baringin), beberapa kuburan tua lainnya yang masih dijaga oleh masyarakat adat baringin antara lain (Taipa, Buangin, Padang alla', Botto bale)

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Bagi Masyarakat Adat Baringin, hutan merupakan sumber penghidupan kolektif, yang dari sana kebutuhan hidup material sehari-hari bisa dipenuhi. Prinsip kolektivisme (kepemilikan bersama) atas penguasaan sumber daya alam (hutan) merupakan filosofi dasar yang pada kenyataannya hidup dan melekat di kalangan Masyarakat Adat Baringin. Meski sebagian besar kehidupan mereka ditopang oleh ketersediaan sumber daya hutan, atau dengan kata lain ketergantungan mereka terhadap hutan sangat tinggi, akan tetapi hal tersebut sama sekali tidak membuat Masyarakat Adat Baringin memperlakukan sumber daya hutan secara serampangan dan tidak bertanggungjawab

Masyarakat adat Baringin dalam pengelolaan Sumber Daya memiliki kearifan lokal (Pangngadaran) yang di kenal dengan Istilah “Peppasang” atau dalam pengertian Pesan-Pesan leluhur yang harus di taati dan dijalankan oleh anggota komunitas Adat Baringin maupun pihak-pihak dari luar. Dan apabila ada pelanggaran “Peppasang” maka akan dikenakan sanksi adat yang dikenal dengan istilah “Na Ceccuko Lontara”, bentuk sanksi ini memiliki pembagian derajat/level tingkatan sanksi ringan, sedang, dan berat.

Kearifan local yang lain yang dimiliki Masyarakat Adat Baringin adalah “Mappemali” yang dalam pelaksanaannya masyarakat dilarang melakukan penebangan kayu baik di wilayah hutan larangan, maupun di wilayah hutan kelola selama 4 bulan dalam setiap tahunnya, kearifan local ini masih berlangsung hingga saat ini.

Masyarakat Adat baringin juga dalam pengelolaan hasil-hasil Hutan, sangat memperhatikan keseimbangan/keberlangsungan keberadaan hutan dan hasil-hasilnya, hal ini dapat ditandai dengan adanya kebiasaan yang berlangsung di komunitas adat Baringin berupa kebiasaan mengambil Madu Hutan tanpa merusak hutan/pohon tempat lebah madu bersarang 
Pola pengelolaan sumber daya alam dalam sector pertanian dan perkebunan, Masyarakat Adat Baringin menggunakan pola “Gilir Balik”, yang mana dalam implementasinya masyarakat dalam membuka dan mengelola lahan secara berpindah-pindah di satu kawasan yang sama dengan rentang waktu tertentu. Tapi saat ini pola tersebut sudah tidak dilaksanakan lagi, disebabkan wilayah-wilaha kelola untuk areal perladangan komunitas adat Baringin, sebagian besar telah dimasukkan ke dalam kawasan hutan Negara, sehingga berimplikasi pada terbatas akses masyarakat adat Baringin dalam pengeloaan Sumber Daya Alam.

- Peppasang-Peppasang yang dimiliki Masyarakat Adat Baringin yang berkaitan dengan Pengelolaan Sumber Daya Alam antara lain adalah :
“Malilu SipakaingE, Rebba Si Patokkong, Mali’ SiParappe, Tassikojo-kojo Lembong”
Artinya : saling mengingatkan ketika terjadi pelanggaran Adat, hendaknya jangan mengambil hak yang bukan milik”
- Dalam penyelesain konflik dikomunitas adat, penetapan waktu pertanian, Pembukaan lahan, upacara-upacara adat di rumuskan dalam pertemuan yang dikenal di Masyarakat Adat Baringin adalah “SIPULUNG WANUA”. Pertemuan/musyawarah Adat (Sipulung Wanua) merupakan kegiatan yang sangat krusial dilaksanakan oleh masyarakat Adata Baringin dalam memutuskan/merumuskan hal-hal yang berkaitan dengan kenerlangsungan kehidupan Masyarakat Adat Baringin dalam mengelola Sumber Daya Alam di wilayah Masyarakat Adat Baringin. 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Baringen
Struktur To Matoa Dulung Sara' Sanro
To Matua : Pimpinan pemerintahan lembaga adat
Dulung : lembaga adat yang mengatur urusan pertanian, perkebunan, dan pengelolaal Sumber Daya Alam
Sara’ : Lembaga Adat yang berfungsi untuk mengatur urusan keagamaan/spritual
Sanro : Lembaga Adat yang berfungsi untuk mengatur urusan Kesehatan/pengobatan
 
Tudang sipulung (Musyawarah Mufakat) 

Hukum Adat

Bagi Masyarakat Adat Baringin, hutan merupakan sumber penghidupan kolektif, yang dari sana kebutuhan hidup material sehari-hari bisa dipenuhi. Prinsip kolektivisme (kepemilikan bersama) atas penguasaan sumber daya alam (hutan) merupakan filosofi dasar yang pada kenyataannya hidup dan melekat di kalangan Masyarakat Adat Baringin. Meski sebagian besar kehidupan mereka ditopang oleh ketersediaan sumber daya hutan, atau dengan kata lain ketergantungan mereka terhadap hutan sangat tinggi, akan tetapi hal tersebut sama sekali tidak membuat Masyarakat Adat Baringin memperlakukan sumber daya hutan secara serampangan dan tidak bertanggungjawab

Masyarakat adat Baringin dalam pengelolaan Sumber Daya memiliki kearifan lokal (Pangngadaran) yang di kenal dengan Istilah “Peppasang” atau dalam pengertian Pesan-Pesan leluhur yang harus di taati dan dijalankan oleh anggota komunitas Adat Baringin maupun pihak-pihak dari luar. Dan apabila ada pelanggaran “Peppasang” maka akan dikenakan sanksi adat yang dikenal dengan istilah “Na Ceccuko Lontara”, bentuk sanksi ini memiliki pembagian derajat/level tingkatan sanksi ringan, sedang, dan berat.

Kearifan local yang lain yang dimiliki Masyarakat Adat Baringin adalah “Mappemali” yang dalam pelaksanaannya masyarakat dilarang melakukan penebangan kayu baik di wilayah hutan larangan, maupun di wilayah hutan kelola selama 4 bulan dalam setiap tahunnya, kearifan local ini masih berlangsung hingga saat ini.

Masyarakat Adat baringin juga dalam pengelolaan hasil-hasil Hutan, sangat memperhatikan keseimbangan/keberlangsungan keberadaan hutan dan hasil-hasilnya, hal ini dapat ditandai dengan adanya kebiasaan yang berlangsung di komunitas adat Baringin berupa kebiasaan mengambil Madu Hutan tanpa merusak hutan/pohon tempat lebah madu bersarang 
 
- Ritual adat yang masih berlangsung hinga saat ini adalah :
➢ “Maccera Jerame” atau pesta ketika masyarakat berhasil dalam memanen hasil-hasil pertanian, kegiatan-kegiatan “Maccera Jarame” dalam bentuk “Mappadendang” dan “Ma’doa”
➢ “Mappasoso Salu”, merupakan ritual adat yang dilakukan apabila salah satu anggota komunitas adat melakukan kegiatan Aqiqah, Perkawinan. Ritual ini bertujuan untuk sebagai bentuk permohonan izin kepada Sang Pencipta untuk kelancaran prosesi kegiatan-kegiatan tersebut diatas. Dan prosesi Mappasoso Salu ini dilakukan sebelum kegiatan-kegiatan diatas dilakukan
➢ “Rambu Solo”, merupakan ritual/Pesta Adat untuk kedukaan/kematian
➢ “Rambu Tuka”, merupakan ritual/pesta Adat seperti perkawinan, dll
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi
Sumber Kesehatan & Kecantikan Akar kuning, tampa lorong, dengeng-dengeng, sambiloto, Sinaja
Papan dan Bahan Infrastruktur kayu
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kemiri, Lada Putih
Sumber Pendapatan Ekonomi Coklat, Durian, Langsat, Rambuta, madu, Aren, Rotan