Wilayah Adat

Ngata Lumbulama

 Terverifikasi

Nama Komunitas Lumbu Lama/ Kasoloa
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota DONGGALA
Kecamatan Banawa Selatan
Desa Lumbulama
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 8.947 Ha
Satuan Ngata Lumbulama
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Vavugaga
Batas Selatan Salumpaku
Batas Timur Ongulara
Batas Utara Salungkaenu

Kependudukan

Jumlah KK 220
Jumlah Laki-laki 500
Jumlah Perempuan 580
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat yang mermukim di ngata lumbulama adalah masyakat adat suku da’a yang tidak lepas dari sejarah asal usul orang kamalisi atau to ulujadi sebagai penghuni wilayah adat yang begitu luas serta melakukan pembagian kewilayaan keadatan sesui dengan musyawarah (mosiromu/potangara) pembagian hak-hak atas keulayakan keadatan tersebut.
Dalam perkembangan manusia ini, orang da’a memprcayai belum ada adat atau aturan yang mengatur adat dalam kehidupan manusia nanti setelah diciptakannya orang yang mereka sebut sebagai “Tomanurung – Tobarakah “ dari sinilah barulah mereka mengenal system adat, yang kini tetap di jaga. Lumbulama yang secara hokum adatpun masih berpatron pada kepimimpinan ngata adat dombu (saudara).


Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pangale Viata: hutan adat kramat tidak biasa di olah
Pangale : Hutan Lindung
Ova : Lahan Bekas Garapan dan di tinggalkan selama 10-15 tahun dan menjadi hutan kembali ditumbuhi kayu-kayu relatih kecil, suatu saat bias di olah kembali secara adat/arif
Olo : bagian hutan yang di larang di olah karena merupakan zona penyediaan sumber air (mata air)
Pantalu : lahan hutan yang diperbolehkan dibuka sesuai aturan adat
Bonde : kebun
Ngata : pemukiman penduduk dijadikan ngata
 
Masyarakat adat lumbulama(kasoloa) dalam penguasaan sumber daya alam serta mengelolahnya sejak ratusan tahun yang lalu dan hal ini dapat di buktikan dengan berbagai peninggalan-peninggalan orang tua mereka seperti kuburan tua, perkampungan tua, tumbuh-tumbuhan yang di tanam oleh orang tua (leluhur) mereka sejak ratusan tahun yang lalu, serta beberapa nama tempat-tempat yang memiliki sejarah dan tempat yang dikeramatkan.
Tata cara dan tradisi pengelolaan sumber daya alam yang ada di lumbulama hampir tidak berbeda dengan wilayah-wilayah ngata lainnya di kamalisi (memilki sejarah asal usul dan kearifan local yang sama) dimana pengelolaannya selalu berpegang teguh pada budaya dan tradisi leluhur mereka.

1. Sistem penguasaan
Sumber daya alam di manfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahtetaraan dan di kuasai serta dikelola bersama secara adil untuk kesejahteraan rakyat. Dalam penguasaannya, sumber daya alam di kuasai dan di manfaatka oleh kelompok di mana semua orang mempunyai hak yang yang sama dalam penguasaannya. Penguasan yang di maksud di sini adalah penguasaan komunal. Penguasaan komunal adalah penguasaan dan kepemilikan berdasarkan prinsip dan kepentingan bersama di bawah pengawasan bersama.Dalam prinsip penguasaan juga, Komunitas Kamalisi tidak tertutup kepada siapa saja yang ingin mengelolah Sumber Daya Alam yang ada di wilayah adatnya, dengan harus meminta izin atau memberitahukan /pemberitahuan lembaga adat.
2. Sistem Kepemilikan
Tanah dan Masyarakat hukum adat saling memiliki korelasi yang signifikan, ini menciptakan suatu hak untuk menggunakan, menguasai, memelihara sekaligus mempertahankannya. Hak-hak dan system kepemiliklah tanah di wilayah adat da’a lumbulama juga seperti halnya beberapa wilayah adat yang ada disulawesi tengah. Kepemilikan tersebut di dasarkan atas dan proses kepemilikan komunal, kepemilikan individual dengan sebuah prinsip yang telah di percayai oleh orang da’a bahwa tanah itu adalah tanah adat yang telah di wariskan dan di berikan oleh leluhur untuk ntodea (Masyarakat) agar dijaga. Prinsip kepemilikan dan penjagaan itu dapat dilihat dari ungkapan leluhur ”Menjual tanah adat sama dengan menjual adat, menjual adat berarti menjual rakyat dan menjual rakyat dalah mendustai dan menyakiti leluhur” .
Kepemilikan komunal adalah kepemilikan yang dimiliki secara kelompok dan dimanfaatkan serta di atur penggunaan dan pengawasannya oleh kelompok. Hak perolehnya juga melalui kelompok artinya pada saat membuak lahan penggarapannya dilakukan secara kelompok. Jenis kepemilikan ini juga berkaitan dengan pembagian hasilnya. Jenis kepemilikan ini, dapat saja dimanfaatkan oleh individu yang ada didalam kelompok tersebut atau orang lain yang di luar kelompok garapan tersebut.dengan melalui:
1. Meminta izin dan mendapat persetujuan dari kelompok tersebut
2. Harus memberikan sedikit hasil pertanian dari tanah tersebut sesui dengan kerelaan untuk kelompok pemilkinya.
3. Tidak di perbolehkan menanam tanaman jangka panjang.
4. tanah tersebut tidak dalam masa istrahat.
 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Lumbulama
Struktur a. Madika b. Tomalanggai c. Totua ada d. Ntodea
a. Madika adalah pemimpin petinggi dalam masyarakat adat da’a di Marawola barat sampai di kecamatan lainnya di mana komunitas da’a berada yang kedudukannya bertempat di Dombu, memimpin dan mengatur dan menjalankan amanat rakatnya untuk kesejahteraan yakyat. Profil madika tidak seperti tradisi dan profil raja. Madika adalah pemimpin yang tidak punya singgasana, madika juga rakyat yang bekerja menjadi petani layaknya ntodea (rakyat biasa)
b. Toma Langgai adalah seorang yang dipercayakan oleh madika sebagai orang menjaga keamanan dan melindungi rakyatnya dari gangguan. Toma langgai juga sebagai pemimpin dan panglima perang.
c. Totua adalah tokoh atau orang tua adat yang mengatur dan melaksanakan system adat di ngata-ngata (kampong-desa). Masing-masing orang tua adat di tunjuk oleh rakyat lewat Posiromu (Peretemuan adat)serta memeiliki penegetahuan adat dan pengalamannya dan terpercaya
d. Ntode adalah rakyat komunitas adat da’a.
 
Mosiromu ( dilakukan dengan musyawarah bersama) 

Hukum Adat

- Aturan yang berlaku jika masyarakat yang membuka lahan hutan terlarang di pegunungan tanpa sepengetahuan totua ada buluna akan dilakukan sanksi
- Jika selesai panen akan dilakukan upacara adat (Vunja) syukuran adat
Nobanta merupakan upacara syukuran sebelum dan sesudah melakukan panen
 
Givu artinya bentuk sanksi berat atau ringan
Vaya artinya aturan sanksi yang di berlakukan untuk tidak mengulangi perbuatan
Sompo artinya sanksi perbuatan yang tidak menyenangkan atau mempermalukan perempuan atau keluarga
 
Pemuda adat melakukan kesalahan dengan tindakan criminal (pemukulan) terhadap pemuda lainnya. Maka di lakukan givu (sangsi) dengan mengeluarkan denda adat yakni ayam, piring sebagai mana di tentukan oleh orang tua adat dan tidak akan mengulangi perbuatannya (Vaya) 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbonhidrat:Ubi, jagung, Talas, Ubi jalar, padi ladang. Protein : kacang panjang, kacang tanah Vitamin : jeruk, jambu air, jambu, pisang
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tumbuhan obat-obatan :kulit kayu vula – obat sakit mata (iritasi) Getah batang pohon kelor- obat sakit mata, Daun kopi = obat luka, getah kayu jawa –obat luka, daun sarikaya-obat asma, daun katilalo obat luka, batuk dan suara paru. Kayumanuru : untuk memerawat kulit agar segar, bersih, indah, awet dan bercerah
Papan dan Bahan Infrastruktur Tava bemba : untuk atap rumah (adat) Kayu Tavaili, ntoe dan Nantu : untuk tiang membangun rumah maupun rumah adat bembatava, Vakava : untuk atap rumah
Sumber Sandang Kayu nunu : untuk pembuatan baju adat
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Balentua, Tumbavani, kuni, pia, katumbara, lemo,
Sumber Pendapatan Ekonomi Coklat, cengkeh, padi gunung, jagung dan ubi-ubian