Berita BRWA

Mama Maria, Penjaga Pengetahuan Tradisional Natapen Ngeil

Kamis, 06 Desember 2018 , admin

Mama Maria menunjukkan salah satu tumbuhan berkhasiat obat

Berjalan dengan kaki sedikit tertatih, mama Maria memasuki ruang kelas SD Desa Ngaiguli. Ada hal yang cukup menarik perhatian, lutut sebelah kirinya ditempeli semacam tumbukan tumbuhan yang berbentuk bubur. Ia kemudian duduk sambil secara perlahan meluruskan kakinya. Mama Maria lalu kembali hanyut dalam diskusi tentang sejarah asal usul marga-marga yang bermukim di Natapen Ngeil, penamaan satuan wilayah adat.

Natapen Ngeil secara administrasi terletak di Desa Ngaiguli, Kec. Aru Tengah Selatan, Kab. Kepulauan Aru, Profinsi Maluku. Kondisi alamnya berupa pesisir dan dataran yang didominasi hutan dan padang rumput alami. Masyarakat Natapen Ngeil terdiri atas 8 Marga, yaitu Nata Tubir, Akasian, Layaba, Meyukin, Natasian, Kalayukin, Pardjer, dan Tildjuir. Seiring berjalannya waktu, terdapat 4 marga pendatang yaitu Unitly, Unenor, Onaola, Siarukin. Dari penuturan Tetua Marga, setiap marga memiliki sejarah asal usul masing-masing. 

Wilayah pesisir Natapen Ngeil

Siang itu, diskusi dalam rangka kegiatan verifikasi wilayah adat Natapen Ngeil dilanjutkan di satu-satunya gedung SD yang ada di desa Ngaiguli. Diskusi seharusnya dilaksanakan di rumah adat Natapen Ngeil, namun saat ini rumah adat tersebut masih dalam proses perbaikan. Kegiatan verifikasi wilayah adat Natapen Ngeil menghadirkan perwakilan marga-marga dan Tetua Marga, Tuan Tanah, Sekretaris Desa serta beberapa perwakilan perempuan, diantaranya adalah mama Maria. Sosok mama Maria menghadirkan karakter wanita yang kuat dan vokal, membuat Ia cukup menonjol diantara wanita lainnya. Ia tidak merasa canggung atau malu-malu untuk ikut terlibat aktif dalam diskusi dan memberikan pandangan-pandangannya.

Setelah menjelang malam, saya mendapatkan kesempatan berbicara dengan mama Maria secara personal. Dimulai dengan pertanyaan, "mama pakai apa itu?". Mama Maria kemudian menjelaskan bahwa Ia menumbuk buah kemiri hingga menjadi bubur lalu ditempeli di sekitar bisul yang ada di lututnya. Ini adalah cara tradisional masyarakat Natapen Ngeil untuk mengobati bisul dan meredakan rasa sakit.

Pengetahuan tumbuhan obat mama Maria cukup luas. Ia bertutur, di Natapen Ngeil terdapat tumbuhan Alar yang sangat berkhasiat dan satu-satunya yang masih sering dimanfaatkan hingga hari ini. Daun tumbuhan ini dipakai oleh wanita Natapen Ngeil untuk pemulihan stamina pasca melahirkan. Mama Maria menjelaskan cara pemakaiannya cukup dengan mengambil beberapa lembar daun Alar lalu direbus, kemudian air rebusannya dipakai untuk untuk menguapi dan membasuh badan dan bagian intim kewanitaan. Daun ini juga sangat berkhasiat untuk memperbanyak ASI. Ia juga menceritakan khasiat tumbuhan lainnya, seperti daun nanas untuk mengobati panas dalam, kulit kayu manga bagian dalam untuk pemulihan stamina pasca melahirkan, serta daun sirih dan buah kemiri untuk megobati bisul atau nyeri. 

Daun Alar, tumbuhan berkhasiat obat

Saat ini, Desa Ngaiguli sudah memiliki satu Puskesmas sehingga pemanfaatan tumbuhan untuk obat tidak lagi sesering dahulu, namun Mama Maria adalah satu dari beberapa wanita yang masih aktif memanfaatan tumbuhan untuk pengobatan tradisional. Selagi penyakit yang dideritanya mampu diobati dengan pengetahuan tradisional yang dimilikinya, Ia lebih memilih memanfaatkan tumbuhan berkhasiat obat yang tersedia di alam Natapen Ngeil. Mama Maria adalah salah satu wanita simbol penjaga pengetahuan tradisional yang patut diapresiasi.

Mama Maria mendapatkan pengetahuan pemanfaatan tumbuhan obat secara turun-temurun dari nenek moyangnya. Pengetahuan ini juga tidak lepas dari tingginya interaksi mama Maria dengan alam. Keseharian mama Maria memasuki hutan untuk berkebun dan pangkur sagu serta sesekali melaut untuk mecari ikan, menjadikan mama Maria sangat dekat dengan alam Natapen Ngeil. Tidak hanya mama Maria, tetapi juga seluruh masyarakat Natapen Ngeil masih memiliki hubungan yang erat dengan alam dan wilayahnya. Sebagian besar kebutuhan sehari-hari masyarakat masih berasal dari alam, baik dari hutan, sungai, maupun pesisir. Mama Maria dan seluruh masyarakat Natapen Ngeil memaknai tanah wilayah sebagai identitas marga dan warisan nenek moyang yang harus tetap dijaga dan dipertahankan, serta tidak boleh diperjual-belikan.

Hasil tangkapan ikan, kekayaan laut Natapen Ngeil

 

 

 

Berita Lain