Berita BRWA

Melalui Ritual “Hang Woja”, Kami “Orang Colol” Bersyukur

Jum'at, 12 Oktober 2018 , admin

Sore itu, udara dingin menyambut Tim BRWA sesampainya di Gendang Biting, satu dari 4 gendang/kampung yang termasuk ke dalam “Gelarang” Colol sebutan satuan wilayah adat yang terdiri dari beberapa gendang. Bersama dengan tiga gendang lainnya yaitu Gendang Welu, Gendang Tangkul dan Gendang Colol (Induk) membentuk sebuah gelarang, tempat Masyarakat Adat Colol bermukim dan menggarap lahan garapan yang secara geografis, terletak di sebelah utara Gunung Poco Nembu dan Gunung Golo Lalong di timur Pulau Flores. Gelarang Colol itu terletak secara administratif di Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Suasana di Wilayah Adat Colol, Kab. Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

Sangat kontras dengan udara sore itu, masyarakat adat Colol menyambut kedatangan Tim BRWA dengan ramah dan penuh kehangatan. Beruntungnya, kedatangan Tim BRWA ternyata bertepatan dengan diadakannya sebuah ritual adat untuk mensyukuri hasil panen. “Hang Woja” atau “Penti” adalah nama dari ritual adat tersebut.

Setiap tahun masyarakat adat Colol mengungkapkan rasa syukurnya kepada leluhur melalui ritual adat Hang Woja. Fungsi ritual ini juga sebagai pengharapan untuk panen yang lebih baik pada tahun berikutnya. Pelaksanaan ritual ini memakan waktu 1-2 hari dan terdiri atas beberapa tahapan.

Cengkeh adalah komoditas utama selain kopi yang dihasilkan dari uma Colol.

Sore itu, Hang Woja dimulai dengan pemotongan babi di rumah Gendang Welu, untuk dipersembahkan kepada leluhur. Selanjutnya diadakan prosesi Barong Wae, yang fungsinya untuk mengundang roh penjaga mata air untuk hadir dalam ritual adat Hang Woja. Pada malam harinya dilaksanakan ritual Rahi, yaitu setiap ketua panga/suku menyerahkan uang sebagai bentuk persembahan dari hasil panen yang didapat dan keterlibatan mereka dalam ritual adat Hang Woja. Setiap ketua panga/suku mengungkapkan puji syukur kepada leluhur karena telah memberikan makan dan minum yang cukup serta hasil panen yang baik pada tahun ini dan  meminta serta berharap panen selanjutnya lebih baik.

Pemotongan babi dilanjutkan dengan mengambil hati/empedunya. Melalui media ini, mereka memprediksi apakah panen selanjutnya akan lebih baik atau justru ada bencana yang akan dihadapi. Ritual ini juga melibatkan acara makan besar, dengan menjadikan babi yang telah dipotong dan diolah sebagai menu utamanya. Untuk kami, Tim BRWA yang kebetulan semuanya muslim, mereka telah menyiapkan lauk telur dan ikan asin sebagai pelengkap sayur pakis dan nasi hangat. Kami merasa sungguh amat nyaman dan aman berada di tengah-tengah saudara baru kami itu.

Usai makan bersama, mereka melangsungkan prosesi Sanda Lima hingga tengah malam. Para lelaki menari lebih dahulu mengelilingi tiang utama rumah gendang sambil memanjatkan doa kepada leluhur. Selanjutnya, mereka bersama para perempuan membentuk lingkaran dan bersama-sama melakukan tarian mengelilingi tiang utama.

Para lelaki mengelilingi tiang rumah gendang ketika melangsungkan tarian Sanda Lima.

Setelah menari semalaman, esok harinya beberapa laki-laki memainkan tarian Caci dengan bersenjatakan cambuk dan perisai, sebagai awal pembuka ritual hari kedua. Sambil kegiatan tarian Caci berjalan, sekelompok tim tarian melakukan Dendek dan kaum wanita melakukan tarian Jai. Sementara itu, para tetua adat melaksanakan prosesi Karong Lodok yang dimulai dari dalam Rumah Gendang Welu lalu naik ke atas bukit untuk memanjatkan doa kepada leluhur.

Pada saat perjalanan menuju lahan garapan/lingko di atas bukit, para tokoh adat laki-laki maupun perempuan merapalkan doa dan syukur atas panen yang diperoleh. Di tengah perjalanan, para perempuan Colol berhenti, sedangkan para laki-lakinya meneruskan pergi menanjak ke bukit tempat pusat lingko berada. Sesampainya di pusat lingko berupa pohon anakan kopi, para lelaki melakukan ritual dengan sesembahan anak babi yang diambil hatinya dan diamati tanda-tanda atas panen di tahun berikutnya.

Ritual di atas bukit, tepat di pusat Lingko Longgos yang ditandai dengan anakan kopi.

Setelah prosesi selesai, para lelaki turun kembali dan disambut oleh para perempuan Colol yang telah siap dengan sirih dan pinang. Mereka kemudian bersama berjalan menuju ke rumah gendang dengan membawa hasil panen sebagai simbol dan mengucapkan serangkaian rapalan harapan atas panen kopi dan tanaman lain di tahun yang akan datang. Sesampainya di Rumah Gendang Welu, rombongan disambut oleh tetua adat. Penyambutan ini memiliki tiga tujuan yaitu menyambut rombongan, hasil panen yang dibawa, dan roh leluhur yang ikut bersama rombongan dari atas bukit.

Rombongan bersama dengan tokoh adat lainnya kemudian masuk ke rumah gendang dan menyimpan hasil panen di atas loteng dan/atau disandarkan di tengah tiang. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama di dalam rumah gendang dengan tarian Caci berlangsung di luar. Ritual Hang Woja ditutup dengan sebuah prosesi adat yang terletak di halaman rumah gendang dengan sesembahan babi untuk leluhur. Pada saat itu, cuaca yang mendung dan hujan memaksa Pemangku Adat Gendang Welu untuk melakukan prosesi penutupan di rumah gendang. Prosesi pemotongan babi di “halaman” rumah gendang itu mengakhiri rangkaian ritual adat Hang Woja termasuk tarian Caci yang berlangsung di halaman rumah gendang.