Artikel

Pertukaran dan Penyebaran Bahasa Suku Kaili Ledo dan Suku Kaili Ija

April 25, 2018 , Author: Aria Sakti

Suasana Kampung Raranggonau

Langit yang berawan ditemani suara kumbang hutan, burung yang terbang, dan semilir angin bertiup menghias siang itu. Jalan setapak dari tanah cokelat aluvial berbatu-pasir yang menanjak dan berliku menjadikan jalur pendakian yang amat mendebarkan di atas sepeda motor. Berlatar tebing dan jurang di kanan kiri, menuntut keterampilan pengendara melatari tantangan perjalanan ke sebuah kampung yang dipercaya sebagai wilayah asal muasal dari Etnis Kaili Ledo, Kampung Raranggonau.

Sabtu sore, 21 April 2018, Tim dari Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) mengawali proses registrasi dan verifikasi wilayah adat di Kampung Raranggonau. Kampung yang juga menjadi dusun ke empat bagi Desa Pombewe dan berada di ketinggian 900 mdpl itu menjadi tempat tinggal bagi Masyarakat Adat Kaili Ledo yang dahulunya berasal dari Gunung Lendo. Kaili merupakan nama suku yang memiliki puluhan rumpun dengan bahasa yang berbeda-beda dan tersebar di seluruh wilayah Sulawesi Tengah. Adapun “Ledo” bermakna “Tidak” makna yang sama pada kata “Ija” dari Suku Kaili Ija yang merupakan rumpun suku lain yang berbatasan dan hidup berdampingan dengan Suku Kaili Ledo sejak masa lalu hingga kini. Para pemimpin dahulu yang dikenal sebagai Madika dari kedua suku itu dipercaya memiliki hubungan keluarga meski memiliki bahasa yang berbeda. Hal itu diutarakan oleh Ricu, seorang tokoh adat satu tokoh adat Kaili Ledo di Kampung Raranggonau yang juga pejabat Ketua BPD desa Pombewe.

Pada saat proses verifikasi bersama dengan tim BRWA dan para tokoh adat lainnya, Ricu menceritakan bahwa telah ada pertukaran bahasa lokal di antara Suku Kaili Ledo dan Kaili Ija. Ricu meyakini bahwa adanya hubungan yang harmonis antara para Madika dan masyarakat dari kedua suku tersebut yang menjadi penyebab terjadinya pertukaran bahasa. “Jadi dulu itu ada permintaan dari Kaili Ija untuk saling bertukar bahasa, lalu terjadilah kesepakatan itu, dan kita saling bertukar bahasa, yang kita pakai sekarang adalah bahasa Ija dan yang dipakai mereka adalah bahasa Ledo, dan itu sudah tersebar di Bora sana,” ujar Pak Ricu yang diiringi anggukan tokoh adat lain yang hadir kala itu. Bahasa kedua suku itu memiliki perbedaan untuk beberapa kata dan diwariskan kepada turun-temurun pasca pertukaran sehingga pengetahuan tentang “bahasa asli” tidak lagi berada dalam skema kognisi mereka sepenuhnya saat ini. Orang-orang Kaili Ledo dan Kaili Ija hingga kini masih berinteraksi satu sama lain setidaknya dalam urusan perdagangan rotan. Masyarakat Suku Kaili Ija berkembang hingga ke Boru, wilayah yang menjadi pusat administrasi Kabupaten Sigi sehingga dengan kata lain bahasa Ledo seakan menjadi bahasa umum yang digunakan di sana.

Adapun Suku Kaili Ledo yang berasal dari Gunung Lando, Raranggonau menyebar ke berbagai tempat sejak tahun 1960an oleh karena desakan “orang berbahasa Indonesia”. Setidaknya mereka menyebar untuk bersembunyi dan berkembang menjadi kampung baru di enam wilayah yaitu 1. Desa Rejeki (1957), 2. Dusun Parigi Bonebula (1962), 3. Desa Parigi Gangga (1962), 4. Dusun Maranata (1962), 5. Dusun Manggalapi (1971), dan 6. Dusun Palolo Bampres (1977). Namun, sebagian dari mereka yang merindukan kampung halamannya, kembali ke Raranggonau yang saat ini termasuk ke wilayah Desa Pombewe. Sejak itulah Masyarakat Kaili Ledo itu menyebar ke berbagai wilayah di Sulawesi Tengah membawa bahasa Ija di dalam lisan mereka. Pada saat tulisan ini dibuat, Masyarakat Adat Kaili Ledo Lando yang bermukim di kampung Raranggonau telah meregistrasi data sosial dan peta wilayah adatnya ke BRWA untuk dijadikan bahan dalam mengakses pengakuan dan pelindungan hak-hak mereka.

Artikel Lain