Artikel

Pengeloaan Wilayah Adat Turut Menjaga Sumberdaya Air

March 23, 2018 , Author: Pengeloaan Wilayah Adat Turut Menjaga Sumberdaya Air

Hari Air Sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 Maret, memiliki pesan dan ajakan kepada publik untuk konservasi air . Air adalah unsur vital yang dibutuhkan manusia. Bagaimana jika sumber air bersih semakin menipis bahkan habis?

Ratusan tahun masyarakat adat telah mengelola wilayah adatnya dan menjaga hutan-hutannya, salah satunya adalah untuk mempertahankan sumber air. Jika ada penghargaan yang bisa diberikan untuk pelaku konservasi sumberdaya air, maka masyarakat adat berhak menerimanya.

Masyarakat adat memiliki pembagian ruang dan sistem pengelolaan wilayah adat sendiri berdasarkan aturan adat yang sejatinya sarat dengan prinsip-prinsip konservasi. Dalam pembagian ruangnya, sering kali terdapat area yang dikeramatkan atau larangan. Pada area ini aturan adat sangat ketat dan sanksi pelanggarannya berat. Biasanya, area yang dikeramatkan memiliki hubungan yang kuat dengan kehidupan masyarakat adat. Jika area ini rusak atau hilang maka akan mengganggu kelangsungan hidup masyarakat adat, seperti sumber air.

Misalnya, Barong Karamaka, hutan keramat yang sampai saat ini fungsi dan kelestariannya tetap terjaga karena masyarakat adat Ammatoa Kajang, Sulawesi Selatan, sangat mematuhi aturan adat. Bahkan, di area hutan ini masyarakat tidak diperbolehkan mengambil ranting dan pohon tumbang. Menurut Andi Buyung selaku masyarakat Ammatoa Kajang, di dalam hutan ini terdapat sumberdaya air yang menjadi induk dari 3 DAS di Kajang. Aliran DAS tersebut mengaliri pertanian dan menjadi topangan hidup kecamatan-kecamatan lain. Ada juga Pangale yang merupakan hutan keramat masyarakat adat Wana Posangke. Hutan ini sangat mereka jaga dan keramatkan, karena selain berkaitan erat dengan konsep ritual ketuhanan, hutan ini juga berfungsi sebagai penjaga sumber air, jelas Sofyan selaku masyarakat adat wana posangke.

Masyarakat adat kampung Kuta, Ciamis, Jawa Barat mengkeramatkan sebuah mata air yang terletak ditengah-tengah kampung. Mata air ini diberi nama Ciasihan yang bermakna air (Cai) yang memiliki kasih sayang (Asih). Ciasihan dikeramtkan kerena sepanjang masa airnya tidak pernah surut atau tidak pernah meluap. Di Kampung Kuta juga terdapat Leuweng Gede (Leuweung Keramat). Hutan ini terletak di sebelah Selatan Kampung Kuta yang didalamya terdapat danau kecil (disebut kawah) dan batu (disebut kuburan) yang sama- sama dikeramatkan. 

Sama dengan masyarakat Ammatoa Kajang dan Wana Posangke, masyarakat adat Ngata Lindu juga memiliki hutan yang tidak boleh disentuh, yaitu hutan Wanangkiki. Letak hutan berada di tempat terjauh, di gunung yang merupakan bagian dari hulu sungai. Leluhur mereka telah mengajarkan bahwa jika wilayah tersebut diganggu maka akan mencelakakan kehidupan masyarakat Lindu. Masyarakat adat Ngata Lindu yang berada di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah juga melakukan pengelolaan Danau Lindu secara arif guna menjaga kelestarian Danau Lindu. Di wilayah adat ini terhampar danau dengan luas mencapai 3.488 hektar, menjadikan Danau Lindu sebagai terbesar kedua di Sulawesi setelah Danau Poso. Danau yang terletak di tengah-tengah lembah Lindu ini diterapkan aturan adat, salah satunya adalah Sompoa.

Pengelolaan wilayah adat berdasarkan aturan-aturan adat yang ketat adalah bukti nyata bahwa masyarakat adat adalah pelaku konservasi dan penjaga alam. Akan tetapi, aturan adat dan hukum adat kerap dipandang sebelah mata. Masyarakat adat juga masih menjadi korban kriminalisasi karena bentuk-bentuk pengelolaan wilayahnya tidak diakui oleh negara. Hal ini membuat pengakuan dan pengukuhan masyarakat adat beserta wilayahnya menjadi hal penting untuk terus untuk di dorong, termasuk penetapan hutan adat.

 

Artikel Lain