Artikel

Mengenal Wilayah Adat Mukim Kunyet di Aceh

May 03, 2017 , Author: BRWA-LFN

Kenapa disebut Mukim Kunyet? Dahulu, saat pendatang sedang membersihkan lahan untuk membuka kebun baru, mereka menemukan inoeng kunyet yang sangat besar, seukuran guci 200 liter. Induk rempah kunyit tersebut mereka temukan di Gampong Dayah Tanoh. Karena penemuan inilah maka daerah itu disebut dengan Kunyet. Secara administratif, Mukim Kunyet terletak di Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten, Pidie, Profinsi Aceh. Wilayah adat ini bersebelahan dengan Mukim Paloh, Pegunungan Pinto Kuta,  Mukim Meutarem, dan Mukim Peudaya.

Mukim adalah salah satu bentuk pemerintahan di Aceh yang dijalankan berdasarkan adat dan hukum adat. Pada awalnya, mukim merupakan warisan Kerajaan Aceh sejak masa kesultanan Iskandar Muda (1607), kemudian secara formal diakui oleh oleh Undang-Undang (UU) Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Pemerintahan mukim ini dijalankan oleh Imeum Mukim.

Satu mukim terdiri atas gabungan dari beberapa gampông yang merupakan unit pemerintahan terkecil di Aceh. Mukim Kunyet sendiri terdiri atas 14 gampông. Masing-masing gampông dipimpin oleh seorang Keuchik. Sistem pemerintahan di Aceh sangat mengacu kepada konteks Islam. Oleh karena itu, dalam struktur lembaga adat Mukim Kunyet terdapat Imeum Chik yang berperan sebagai Pimpinan tinggi dalam bidang keagamaan dan pelaksanaan syariat islam (imam mesjid).

Konsep mukim dan gampông sangat melibatkan peran serta masyarakat secara langsung dalam berbagai pengambilan kebijakan. Hal ini tercermin dari adanya perangkat adat Tuha Peut Mukim yang terdiri atas berbagai unsur, yaitu tokoh masyarakat, kalangan kepemudaan, kalangan pedagang, dan kalangan petani dan unsur perempuan. Tuha Peut Mukim ini berfungsi sebagai pemberi pertimbangan dan pengambil keputusan dalam rapat mukim.

 

Pembagian Wilayah Mukim Kunyet

Sumber gambar: http://www.jkma-aceh.org 

Secara garis besar pembagian wilayah mukim di Aceh seperti ilustrasi di  atas. Tidak jauh berbeda, mukim Kunyet juga memiliki Uteun Mukim, yaitu Hutan adat mukim yang dikuasai oleh mukim. Uteun Mukim terbagi lagi ke dalam hutan untuk lindung, hutan untuk produksi yang boleh diambil hasil alamnya seperti awe (rotan). Segala hal berhubungan dengan hutan, seperti luas hutan dan penggunaan hasil hutan diatur dan dikelola oleh Pawang. uteun

Dalam adat Mukim Kunyet, sawah disebut dengan istilah Blang. Sawah ini ditanami padi hanya setahun sekali dan sumber airnya berasal dari Neuheun, waduk yang terletak di atas persawahan. Blang dimiliki baik oleh perorangan dan gampong. Tiap blang gampong diatur dan dikelola oleh Keujruen Blang. Peran Keujruen Blang  diantaranya membahas hukum, waktu untuk hari turun ke sawah, pantangan turun ke sawah, pengelolaan hasil panen, termasuk mengelola Neuheun dan menjaga pintu airnya.

Selain sawah, masyarakat Mukim Kunyet juga mencari sumber penghidupan dari berkebun. Kebun-kebun ini berada di dalam wilayah mukim dan hanya dikhususkan untuk masyarakat Mukim Kunyet saja. Dalam istilah adat masyarakat Mukim Kunyet, kebun disebut dengan Lampôh. Segala masalah berkaitan dengan lampôh seperti pantangan dan pembagian hasil lampôh diatur dan dikelola oleh Petua Seuneubok. Sebagian kebun dan sawah ini ada yang merupakan milik perorangan, tak jarang mereka menghibahkannya ke masjid untuk menjadi Tanoh wakeuh atau tanah wakaf.

Dalam pembagian ruang Mukim Kunyet juga dikenal istilah Paya atau rawa-rawa. Dalam pemanfaatannya, masyarakat Mukim Kunyet dilarang keras menangkap ikan menggunakan stroom (listrik) dan melakukan tuba eungkot atau meracun ikan. Larangan ini juga berlaku untuk Neuheun (waduk).

Artikel Lain