Artikel

Semen Berdiri: Air, Budaya dan Adat Hilang

March 22, 2017 , Author: Lasti Fardilla Noor, Bogor

(https://www.youtube.com/watch?v=e7cMU5vTW1s&feature=share)

"Sekarang Gunung Kendeng terancam dengan pendirian pabrik semen di Kabupaten Pati dan Rembang, secara tidak langsung budaya atau adat di sana mau dihilangkan, karena Gunung itu menyimpan sumber mata air yang banyak sekali" 

https://www.youtube.com/watch?v=e7cMU5vTW1s&feature=share

Kalimat tersebut dilontarkan oleh Gunarti dalam salah satu wawancara pada acara Kongres Masyarakat Adat Nusantara V (KMANV). Gunarti merupakan masyarakat adat Sedulur Sikep. Menurutnya, pendirian pabrik semen akan mengikis Gunung Kendeng yang berakibat pada hilangnya sumber air. Air adalah elemen vital yang dibutuhkan oleh setiap makhluk, baik oleh masyarakat Kendeng maupun hewan dan tumbuhan yang hidup di wilayah tersebut.

Pandangan Gunarti sangat tepat karena Gunung Kendeng merupakan fenomena bentang alam karst yang memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga ketersediaan air. Jika bukit-bukit karst ini diganggu oleh aktivitas penambangan, maka akan mengurangi simpanan air dalam kawasan tersebut. Dalam salah satu naskah yang ditulis oleh Tjahyo Adji tentang Kondisi Daerah Tangkapan Sungai Bawah Tanah karst Gunung Sewu dan Kemungkinan Dampak Lingkungannya dijelaskan bahwa bukit karst memiliki kemampuan penyimpan air yang besar karena sifat porositasnya dan saat kemarau cadangan air di dalam bukit-bukit karst ini tidak kering. Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan oleh Acintyacunyata Speleological Club, Semarang Caver Associaton, Indonesia Caver Society dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng, terdapat 109 mata air yang tersebar di CAT Watuputih, nama lain dari cekungan air tanah Pegunungan Karst Kendeng. Mata air ini bersifat perenial yang mengalir sepanjang musim kemarau. Bisa dibayangkan berapa besar simpanan air yang akan hilang jika Gunung Kendeng hilang akibat penambangan? dan bagaimana kelangsungan hidup warga? Mampukan pabrik semen menggantikan setiap cadangan air yang akan hilang?

Gunarti juga memiliki pandangan bahwa hilangnya sumber mata air akan menghilangkan mata pencaharian warga yang sebagian besar adalah petani. Jadi, pendirian pabrik semen ini tidak hanya akan merusak ekologi dan ekosistem setempat tetapi juga menggeser budaya dan kearifan masyarakat Sedulur Sikep.

Sedulur Sikep adalah sebuah keyakinan yang berasal dari ajaran pemimpin masyarakat bernama Samin Surosentiko. Dalam jurnal yang ditulis oleh Moh Agus Prasetiyo, dkk (Fakultas Hukum UMK) disebutkan bahwa Tokoh Samin Surosentiko beserta pengikut ajaranya mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajah. Masyarakat adat ini banyak melakukan bentuk penolakan terhadap kebijakan penjajah Belanda. Pada zaman sekarang, masyarakat adat Samin lebih dikenal dengan Sedulur sikep yang bermakna “saudara atau orang bertabiat baik serta jujur.”  Ajaran Samin yang melekat kuat adalah hidup dari pertanian. 

"kekuatan negara bukan dipeluru, tetapi di pangan," bagi Gunarti dan masyarakat adat Sedulur Sikep pertanian adalah kekuatan Indonesia yang seharusnya didukung oleh pemerintah. Masyarakat adat Sedulur Sikep berprinsip bahwa setiap orang butuh maka dan pertanian adalah sesuatu yang bisa diwariskan ke anak cucu. Berbeda dengan penambangan yang akan habis hanya dalam satu generasi. Bukan masyarakat Sedulur Sikep menolak penambangan, tetapi penambangan haruslah yang berkelanjutan.

 

Artikel Lain